krokettahu

menyelesaikan masalah dengan masalah

Pertemuan Pertama dengan Buttutala

Leave a comment

Sebuah ketidak konsistensian diri. Saat ini sedang ingin menggunakan aku.

Cerita ini aku tulis setelah hampir 3 bulan keberadaanku di lingkungan baru yang bernama Buttutala. 

Sejauh dan seliar apapun imajiku melanglang buana, aku tak pernah tahu kapan dan di mana petualangan besar akan dimulai. Aku hanya memiliki kaki-kaki kecil yang setapak demi setapak mengalami kehidupan, menembus ruang dan waktu.

Begitu juga dengan keberadaanku di sini. Memang, sebelumnya aku sudah membayangkan lokasi apa yang akan aku singgahi untuk sementara waktu. Saat ini, aku berada di suatu tempat di ujung bukit, tempat paling ujung sebuah bukit, sebuah dusun dimana orang-orang yang hidup di bawah sana puluhan tahun  dengan segala fasilitas yang jauh lebih lengkap tidak pernah mendatangi dusun ini. Dan, hampir semua orang terperangah kaget ketika mendengar yang ditugaskan di dusun ini adalah aku, seorang perempuan.

Banyak hal yang sudah aku siapkan, mulai dari kemungkinan terburuk yang dapat aku pikirkan. Namun, satu hal yang belum aku persiapkan sebelumnya, rasa yang saat ini aku rasakan. Sebuah gugusan rasa yang tak terdefinisikan.

Perjalanan yang ku tempuh cukup jauh, tujuh jam berada dalam kotak besi yang biasa disebut mobil dari ibu kota provinsi Sulawesi Barat harus kutempuh menuju ibukota kabupaten Majene. Dilanjutkan lagi (dan lagi-lagi) perjalanan darat tiga jam, kali ini dengan kotak besi yang berbeda, meski tidak lebih baik ataupun lebih buruk menuju kecamatan Malunda. Sepanjang jalan menuju kota kecamatan melalui jalan poros, aku melihat hamparan karpet hijau pegunungan di sebelah kanan dan birunya laut di sebelah kiri. Perjalanan masih belum berhenti sampai di situ. Aku masih harus melanjutkan perjalanan lagi ke Dusun Buttutala dengan menggunakan sepeda motor. Kenapa dengan motor? Lalu bagaimana dengan barang bawaanku untuk empat belas bulan kedepan? Tentunya diangkut dengan motor. Mobil tidak bisa masuk ke dusunku. Hanya mobil offroad yang bisa, oleh masyarakat setempat di sebut otto. Fiuuuhhhh, empat puluh lima menit yang menantang dari Malunda ke Buttutala. Jalanan aspal yang rusak, bebatuan, bahkan tiga puluh menit terakhir aku melewati jalan tanah, menanjak, serta berlumpur yang menelan separo ban motor yang aku naiki. Beberapa kali nyaris jatuh. Hingga akhirnya, sampailah aku di dusun Buttutala.

Bersambung……  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s