krokettahu

menyelesaikan masalah dengan masalah

SULTAN

1 Comment

“Bu Guru, seharusnya ibu tidak menyuruhnya keluar. Besok pasti dia tidak masuk sekolah”.  Kata Sultan ketika emosiku sudah memuncak dan akhirnya mengusir Bambi keluar kelas.

Lalu dia berlari keluar kelas memanggil Bambi.

SULTAN

Seperti nama anak-anak di sini yang hanya terdiri dari satu suku kata. Sultan. Entah apa maksud orang tuanya memberi nama itu. Mungkin ada semacam doa dan harapan dari kedua orang tuanya tentang masa depannya. Supaya dia bisa menjadi raja.

Sultan adalah salah satu muridku. Dia duduk di kelas 5 sekarang. Sudah dua kali dia tidak naik kelas. Di sini, kasus anak tidak naik kelas adalah hal biasa. Bukan menjadi beban bagi mereka. Tetap tertawa bahagia.

Sultan baru bisa membaca dengan CUKUP LANCAR ketika dia kelas 5. Bahkan sampai sekarang bisa aku katakan dia masih terbata-bata ketika membaca. Begitu halnya dalam menulis. Dia salah satu anak yang paling lama menulis di kelas. Membuatku dan semua teman-temannya menunggu beberapa saat supaya tulisan di papan tulis bisa dihapus. Bahkan akupun sering kali merelakan waktu istirahatku untuk menungguinya selesai menulis di dalam kelas.

Kemampuan matematikanya tidak bisa dikatakan bagus, tidak pula buruk. Dia mampu, hanya membutuhkan waktu ekstra untuk menyelesaikan soal. Serta energi tambahan untuk menjelaskann padanya. Semangat pantang menyerahnya yang harus kuacungi jempol. Dia termasuk dari salah satu muridku yang pantang menyerah dalam menyelesaikan soal. Berkali-kali datang padaku meminta penjelasan. Namun ketika sudah masuk ke ranah logikanya, maka semua mudah baginya.

Sultan juga salah satu guruku di sekolah. Ketika aku menjelaskan suatu hal, dan tidak ada satu anakpun yang mengerti, tiba-tiba dia maju ke depan kelas dan bertanya padaku sesuai dengan logika anak seusianya. Bukan pertanyaan menurutku, akan tetapi dia memberikanku jalan untuk menjelaskan dengan bahasa yang sederhana, bahasa yang bisa dimengerti semua murid-muridku. Dan seketika itu juga aku sadar, bahasa yang aku gunakan terlalu berbelit untuknya dan teman-temannya.

Usia Sultan baru 11 tahun. Namun, dia adalah anak yang paling peka perasaannya di kelasku. Dia paling perhatian terhadap teman-temannya. Meski sensitif, tak jarang dia berkelahi dengan temannya, bahkan menangis. Hahhaaaa. Lucu memang.

Sultan adalah anak yang memiliki percaya diri sangat baik di sekolah. Ketika kuminta dia maju di depan kelas bernyanyi, dia pasti akan maju dan bernyanyi. Ketika aku meminta murid-muridku untuk tampil kedepan, tanggannya akan terangat pertama kali. Ketika tidak ada satu anakpun yang berani mewakili sekolah untuk peragaan busana pramuka ketika kemah se-Kecamatan Malunda, dengan percaya diri dia bersedia.

Sultan sekarang menjadi wakil ketua kelas di kelasku yang terdiri dari kelas 5 dan 6. Dan tahun ini semoga pasti naik kelas, karena sekarang dia sudah bisa membaca 🙂

Terima kasih Nak, sudah menyadarkanku akan banyak hal, mengajariku apa yang yang harus ibu lakukan selama di sini.

One thought on “SULTAN

  1. Nice…cerita yg sangat mnginspirasi 🙂
    Dont give up sis…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s