krokettahu

menyelesaikan masalah dengan masalah

Tour to de Monas – Melihat Jakarta dari Atas

3 Comments

Dua tahun di Jakarta akhirnya ke Monas juga. Well, sudah pernah ke Monas satu kali, tapi tidak sampai atas. Hanya berkeliaran di sekitaran Monas.

Sekarang Monas dibuka sampai malam. Itu merupakan berita gembira, buat ku terutama. Karena rencana ke Monas di pagi hari hanya akan menjadi wacana akhir pekan seumur hidup. Secara, weekend itu memang paling enak kalau dihabiskan dengan bangun sedikit lebih siang dibanding biasanya ;p

Kembali ke Monas, kemarin malam bersama 8 biji teman sepakat (aku anggap kalian semua memang sepakat dan setuju ikut) untuk piknik ke Monas. Rencana indah kami adalah berangkat jam 6 teng (setelah jam pulang kantor), tapi apalah daya, banyak faktor external (excuse) menghambat. Salah satunya adalah lapar. Sungguh tidak baik pergi jalan-jalan dalam keadaan lapar. Banyak hal yang iya-iya akan terjadi :p

Jam 8 kami mulai bersiap. Selesai makan, pesan uber dan cusssss.
Kami bagi menjadi 2 tim, tim A dan tim B (biar nampak keren aja sih ini). Tim A terdiri dari aku, Oye, Gitato, Empit dan Leo (ini kayanya semua member VIP jazz biru, tapi beneran ini tanpa rekayasa kami berada dalam satu uber). Tim B ada Imah (kepala suku), Mario, Rikijo dan Leon (kyaa kyaaaa, perlu rayuan maut buat ajak Leon jalan, secara doi g mureh kaya yang lain. Wkwkwkww).

Sampai di plataran Monas, yang kami lakukan pertama foto. Yessss. Ini adalah keputusan sangat tepat yang tidak pernah kami sesali. Hahhahhaa. Karena g bawa tongsis, otomatis meminta bantuan mas-mas yang baik hati (moga-moga g terpaksa yes) yang lagi asik jalan sama cewenya (semoga mmg bener cewenya) buat fotoin. Didoain, moga-moga langgeng ya mas.

Cekrek-cekrek, foto pun g cukup sekali. Beberapa take diambil, meski gayanya sama.

DSCN8752
 Barangbukti#1. Kami ke monas 

Setelah puas (ngerjain masnya) foto, kami lanjut. Mencari pintu masuk ke Monas. Untung ada Imah, yang cukup berpengalaman dengan Monas. Berkat petunjuk dari papan plank yang hampir blur arah panahnya dan bekal ingatan Imah, kami berjalan menuju pintu masuk Monass yang penuh perjuangan dan dosa. Yes, kami sudah berdosa karena menginjak rerumputan di sekitaran Monas, maafkan kami :'(. Kami tidak tahu kalau rerumputan itu tidak boleh diinjak, karena banyaknya pengunjung yang duduk, pacaran (ngapain juga pacaran di Monas, kurang kerjaan deh), lari-larian, dan jalan di atas rumput. Asumsi itu boleh diinjak dong, asumsi setelah diskusi serta saling meyakinkan satu sama lain bahwa itu boleh diinjak, sampai akhirnya ada papan yang menyatakan bahwa rumput tidak boleh diijak. Hiks. Yaudahlah ya, setidaknya hbs itu kami g nginjak rumput lagi :p

Sebagai informasi, pintu masuk puncak Monas tidak di sekitar Monasnya. Mmmmm, harus sedikit memutar dan lewat terowongan. Mungkin di sebelah Barat kali ya (nextime kalau sudah ketemu yang bener bakal di edit).

DSCN8769Barangbukti#2. 
Lorong - jalan menujuk puncak (Monas)

Setelah lewat lorong yang cukup terang karena banyak lampu, kami sampai di loket. Tiket masuk Monas sampai ke puncak 15K/dewasa. Mungkin, karena kami terlihat unyu dan imut-imut, bapak penjual tiket (ngeyel) memberi harga mahasiswa. Padahal kami sudah bilang kalau kami adalah sekelompok muda-mudi dewasa dan sudah bekerja. Bapaknya g percaya kali ya, kalau kami sudah kerja, terlalu imut muka-mukanya :))

Naik ke Monas butuh tenaga dan waktu yang selo. Ya, selain karena naik turun tangga yang g seberapa itu, kami juga harus antri buat ke puncak lewat lift yang muat 10-14 orang saja. Mungkin karena terlalu malam, antrian tidak terlalu banyak, sambil antri, kita tetap harus memperbanyak barang bukti biar lebih meyakinkan kalau kami memang ke Monas.

antri lift monasBarangbukti#3. Lagi antri lift

Lift Monas cukup bersih, kacanya cukup kinclong, sampai-sampai Mario bisa berkaca sambil menyisir rambutnya sesuai arah angin dari kipas.

mariobukan barangbukti

Di puncak Monas, Jakarta tampak penuh dengan lampu. Well, dari atas Monas Jakarta terlihat bagus. Mungkin karena sisi yang lain tertutup kelap kelip lampu kota, cieeehh. Ibarat cewe, doi full make up (tapi g menor). Cakep.

DSCN8786Barangbukti#4. Mmmm, yaudahlahya, yang ambil amatir

Puas, lihat Jakarta dari atas, kami ambil beberapa foto lagi.

Puncak Monas 1Barangbukti#5. 
Muka hepi sampai puncak. Terutama Mario (jaket putih yang kelabu)

 

Puncak Monas 2Barangbukti#6. 
Ini kamera p310 night mode

Puas di puncak, turun ke Cawan Monas. Ternyata lampu biru warna warni yang biasa keliatan malam-malam di Monas adalah lampu yang ada di Cawan Monas. Jadi, bukan dinding Monas ngeluarin lampu yaaaa.

Hampir jam 10 kami baru sampai Cawan Monas. Butuh perjuangan keras buat ambil foto di Cawan Monas. Beruntung kami punya Rikijo yang rajin menabung dan suka menolong serta berjiwa fotografer sehingga rela berkorban untuk ambil foto teman-temannya yang pengen eksis.

cawan monas 2Barangbukti#7. 
Dari Cawan Monas hasil jepret Rikijo

Untuk menghasilkan foto di atas g gampang, perlu usaha dan pengorbanan ekstra. Rikijo sampai tiduran, demi foto yang epic dan g failed.

Sebagaimana orang yang memiliki jiwa kesetiakawanan, kami pun tetep ingin punya foto bersembilan. Rasanya kurang afdol kalau tidak foto full team, cieeehh. Segala daya upaya dilakukan, mulai pakai auto timer. Hingga merayu sekelompok Pak Polisi yang hampir mengusir kami dari Cawan karena jam kunjungan sudah habis.

Terima kasih bapak polisi. Sudah mau menerima dengan terpaksa bujukan maut dan memelas dari Oye untuk mengambil foto kita. Dan hasilnya, jeng …. jeng.. failed. Jangankan bersembilan, mukanya saja banyak yang kepotong. Hahhahaa. Tapi, kita sangat menghargai usaha kerasmu pak. Si bapak sampai jungkir balik ambil foto :)).

And you made my day, Sir. Hahhahaaa

Cawan 3Barangbukti#8. 
Hasil usaha keras foto ber-timer supaya full team
kompilasi CawanBarangbukti#9. 
Hasil foto bapak polisi yang sudah berusaha keras memfoto kami semua

FYI :
Jam buka Monas adalah Selasa – Minggu pukul 08.00 -20.00 WIB
HTM 15.000 (dewasa) dan 8.000 (Mahasiswa)

Jakarta – Monas, 15 April 2016

3 thoughts on “Tour to de Monas – Melihat Jakarta dari Atas

  1. oh.. beneran bisa naik sampe atas ya. bisa pegang emasnya nggak mbak? kalo ada rombongan sekolah, selalu dibilangnya monas sedang dalam perbaikan lo.. gabisa naik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s