krokettahu

menyelesaikan masalah dengan masalah

Modus Penipuan Baru

2 Comments

Pagi ini, jam 8.30 saya kebangun karena HP kantor bunyi. Well, namanya juga HP kantor, biasanya yang nelpon kalau g orang kantor, partner ya client. Dan kalau ampe nelpon, berarti penting.

Nomor asing berkedip2 manggil, nomor simpati (dear client dan partner, maafkeun, tidak pernah simpan nomor Anda semua :p)

Penelpon: Halo

Saya: Halo iya (masih beler dan nyawa belum kumpul semua) 

Penelpon: Ini aku, lagi repot g?

Saya: Siapa ya? Arif ya? (namanya juga masih setengah sadar, dengan sotoy langsung sebut nama temen, suaranya mirip2 sih. Asli. Entah efek beler, entah efek cuman pernah sekali telpon karena urusan kerjaan, atau entah karena suara si Arif emang pasaran, saya berasumsi yang nelpon ya si Arif)

Arif Palsu: Iya, Arif. Mau minta tolong nih. (Si pelaku happy kali ya, gayung bersambut, ni bocah malah kasih nama, jadilah dia mengiyakan dan mengaku sebagai Arif). Aku kena razia. Lagi g bawa surat-surat. Kamu bantu ngomong sama Polisinya ya, bilang surat-surat ketinggalan. Bilang buat jalan damai ya.

Saya : Oh, iya (masih oon, gak pake mikir, namanya bantuin temen, merasa senasib sepenanggungan, merantau di negeri orang)

Polisi Palsu: Halo, dengan siapa ini?

Saya: Lukvi, Pak (odong, kasih nama beneran)

Polisi Palsu: Mbak Lukvi, tinggal dimana

Saya : Di K***a, Pak (kasih alamat beneran)

Polisi Palsu: Mbak, ini siapanya Arif ya?

Saya: (bingung jawab) kakak, Pak

Polisi Palsu: Jadi ini Arif kakaknya?

Saya: Iya, Pak.

Polisi Palsu: Jadi gini, Arif kena razia, g bawa surat-surat. Katanya suratnya ketinggalan.

Saya: (langsung motong) Iya pak, surat nya ketinggalan, minta tolong damai aja ya pak.

Polisi Palsu: Kalau damai karena g bawa sim dan stnk kena 650ribu mbak. Tapi si Arif katanya cuman bawa 50ribu

Saya: (Ebuset, ni bocah kagak jajan apa, kurang ya duit hasil freelance) Yauda pak, minta Arif ambil di ATM aja pak. Dia memang g bawa duit kayanya. Duitnya di ATM, biar dia ambil dulu, Pak

Polisi: Gak bisa mbak, biasanya ambil duit di ATM terus kabur, g balik. Jangan macam-macam ya mbak

Saya: (Yah, ketauan dong modusnya, masih oon) Yauda, mana Arif. Halo Arif, yauda ambil duit di ATM sana, gimana kek

Arif Palsu: Uangku tinggal 50ribu, lagi ga punya duit. Bisa minta tolong transfer ke Polisinya aja ga?

Saya: (whatt?? Gak punya duit ?!!! Aneh banget. Mulai sadar, mulai curiga. Situkan kerja di salah satu market place paling gede di Indonesia, masak itu company g mampu bayar doi. Apalagi doi developer, duit segitu mah cincailah) Yauda sini mana

Balik ke Polisi Palsu,

Polisi Palsu : Mbak, transfer ke rekening pribadi kepolisian itu melanggar aturan mb. Jadi tidak boleh. Tapi biar cepet selesai, mbak bisa transfer ke atasana saya ya, ini nomornya. Mbak hubungi atasan saya dulu, tanya nomot rekeningnya (dia sebut nomor HP).

Saya: (pura2 nyatet nomor sambil scroll HP satu lagi, liat nomor Arif asli. Dalam hati, ni bocah punya nomor lain? Kalau punya nomor lain, ko providernya sama ya)

Polisi Palsu: Mbak pake bank apa?

Saya: Standart Chartered (asal sebut nama bank, sambil melirik leptop di pojokan, mager buat buka internet banking). Bapak dimana sih?

Polisi Palsu: Polresta

Saya: Iya, polresta mana Pak?

Polisi Palsu: (mulai nyolot) Masa mbaknya g tau polresta kota sendiri?

Saya: Lha, g tau Pak. (dalam hati ya mana saya tau pak, saya g peduli ko. Males juga ngapalinnya)

Polisi Palsu: Mbaknya gimana sih

Saya: (dah eneg) Yauda pak, bilang si Arif buat tinggal motornya, suruh dia naik angkot. Ntar belakangan diurus.

Polisi Palsu: (sambil ngomel2) Bla… blaaa. blaaaa (ngomong g jelas, kedengaran belakangnya doang) Saya tau, mbaknya modus kan? mau nipukan?

Saya: Lha? (dalam hati, kumaha atuh, kenapa saya diomelin)

Telpon pun diambil sama Arif Palsu,

Saya: sampean niki sinten? Sopo? (pancing pake bahasa Jawa, secara Arif asli Magelang)

Arif Palsu: Lho gimana to, kok sopo, aku Arif. Yaudahlah kalau g niat bantu.

Saya: Lha, pie to ditekoni malah nyeneni (tetep pake bahasa Jawa)

Arif Palsu: Kok pie to pie to sih (dengan bahasa Jawa wagu)

Saya: (dalam hati, password ditolak, fix bukan Arif)

Arif Palsu: Yowes. Kamu g mau bantu. Aku minta tolong yang lain (Tetep maksain pake Jawa yang aneh)

Saya: Yauda sana

Arif Palsu: Bodoh

Saya: ?????

Case closed.
Untung ya, saya segera sadar.

Anw, kalau ini si Arif asli lagi kena masalah kayanya dia uda g mau temenan lagi deh. Dibiarin gitu, g ditolongin 😛

Pesan moral :

  1. Modus penipuan baru, dengan memanfaatkan waktu2 orang bangun tidur. Jadi korban setengah sadar (ketahuan deh jam 8.30 pagi baru bangun 😛)
  2. Ketika bangun tidur terima telpon dari nomor asing, minta waktu bentar buat cuci muka, kalo perlu mandi dan makan dulu (kelamaan ya?)
  3. Jadi orang mageran ada untungnya yah, karena males ambil leptop buat transfer. Hihihihihiiiii
  4. Kalau kena razia, pake jalan biasa aja ya, g usah pake jalan damai
  5. Patuhilah rambu-rambu lalu lintas

Author: LR

mari bereksperimen dengan remahan kata

2 thoughts on “Modus Penipuan Baru

  1. Hati-hati dengan suara merdu di telepon. hahahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s