krokettahu

menyelesaikan masalah dengan masalah

Dream Estuary Part 1

Leave a comment

Ini tulisan tentang bagaimana kami, sekelompok wanita tangguh, berjuang mati-matian untuk berjaya di air. Perempuan-permpuan kece, tahan banting dan anti-mainstream.

I proud ouf you gals, kita keren. Berjuang mati-matian, demi nama baik kita tentunya hahahaa (apa lagi? ) di bawah bendera organisasi FAJY.
Demi gengsi karena kalah saing dengan mapala sebelah. But, yeaah, kita adalah petarung tangguh. Hahahhaaa 

Ariel, Lelly, Justin, Uul, semuanya, serta semua nama lelaki yang disebut di dalamnya. Kalian harus mengakui, bahwa kita itu wangun !!!

Terima kasih buat Ariel yang sudah menuliskan semuanya dengan apik. Sekali lagi, seharusnya tulisanmu ini dibuat buku kecil. Tapi kayanya cuman wacana, baiklah, saya kopi di sini saja. Supaya sewaktu-waktu bisa dibaca lagi sambil tebahak mengenang ke-alay-an saat itu

———————————————————-

Pakaianku terlucuti oleh perih kehidupan..
Aku menangis mengerang memohon ampunan..
Tak pernah disampaikan padaku bahwa si hidup tak memeluk iman..
Dia kejam dan tak ingin tunduk pada kegalauan..
Menerjang bertandaskan impian..
Hanya ini yang disampaikan..
Hidup itu memedihkan, namun tak tergantikan..

Berakhir dengan –an..
Bahkan karena kalian, tawa itu tak henti-hentinya berdatangan..

Prologue…

Kupersembahan untuk siapa lagi jika bukan pada kalian? Lelly, Uul, Lukvi, Greya, Nuri, Bispak, Justin, dan aku sendiri. Tidak ada arti lebih sebenarnya, namun aku berusaha membuat perjalanan kita menjadi sesuatu yang tak terlupakan, bagi kita, atau bagi siapa pun yang membacanya. Kalian adalah penikmat utama tulisan-tulisanku. Meskipun masih ada banyak kekurangan, tapi aku percaya bahwa rangkaian ini akan kalian simpan. Dan itu sudah cukup bagiku.

Thanks to..

Pertama dan utama, Tuhan yang telah membuat impian kami lambat laun mulai nampak kejelasannya.

Orang tua yang benar-benar berhati besar, mengalah pada putri-putrinya, “hanya dan demi” sebuah Lomba Arung Jeram.

Mr. Rosyid, our BIG BOSSS, we really thank of you.. Just it..

Kesempatan, yang membuat kami semakin dekat.

Waktu, yang terus bersabar dengan kelakuan kami. Kami sering tidak berdamai denganmu. Namun, ada kalanya kau mengalah untuk kami, bukan?

Sulawesi, yang benar-benar menanti kedatangan kami. Kuharap kau sedang tidak sakit. Jadi, kami bisa mengunjungimu dengan keadaan yang tenang. (UPZ! Ini hanya untuk jangka waktu satu bulan, dan Ciberang, kami juga tak lupa menyampaikan terima kasih kami padamu. Karena batu-batu di atasmu, kami bisa lebih saling mengenal)

Peralatan gym yang sangat membosankan. Beserta orang-orang yang ada di dalamnya. Kami harus membiasakan diri selama beberapa waktu untuk membuat kalian sadar, bahwa kami sama sekali tidak tertarik dengan otot kalian..

Kaos-kaos olah raga, kalian pasti akan semakin rusak, karena kalian harus lebih sering berjumpa dengan deterjen dan air. Itu bukan salah kalian, keringat kami yang salah..

Lelaki-lelaki yang selalu berkata bahwa kami adalah sekumpulan wanita BODOH. Maaf, tapi kurasa yang lebih sering terjadi adalah kata-kata itu keluar dari telinga kita.. Sepertinya kalian harus mencari padanan kata lain agar kami benar-benar mengerti kalau kami memang LOLA. Mungkin asupan air putih yang cukup?

Motor, sekaligus tebengan, tanpa kalian, tentu kami akan stuck di satu titik.

Compaq CQ41 a.k.a Lappyta yang selalu menemaniku membuat laporan ini.

Kalian, ya, kalian… aku tak akan lupa pada keputusan berat yang harus diambil Uul, Lelly, dan Lukvi, sekali lagi, “hanya dan demi” sebuah Lomba arung Jeram. Aku tahu itu bukan hal yang mudah untuk dibahas dan dilakukan. Namun dengan berani, kalian memilih untuk melangkah terus, bukan lagi menangisi tapak kalian yang pernah terjebak pada satu titik percabangan. Dan untuk timku, aku berterima kasih pada kalian semua.

Dan semua pihak yang telah membantu kami. Kami ada karena kalian. Ini aku tiru persis dari kata-kata artis pada pers Indonesia.

 

A  Long distance..

[Dua puluh sembilan Desember 2010]

Semangat, semangat, dan semangat untuk memulai sebuah latihan fisik. Dan kami menjatuhkan pilihan pada cabang olah raga renang. Tapi sayangnya, sekian tempat dan sekian orang harus berbohong untuk menutupi keinginan mereka menonton jagoannya pada laga AFF, dan bisa ditebak! Kami turut memutuskan menonton final AFF di Mister Burger Seturan. Yap, dengan dua orang yang tetap tak bisa menikmati euphoria nasionalisme Indonesia. Sisanya, berteriak histeris dengan burger di tangan dan mulut mereka..

[Tiga puluh Desember 2010]

Kami berenang bersama, berusaha membugarkan awak dengan menambah stamina nafas. Akhirnya.. kami menemukan tempat latihan baru selain bata dan tangga di GSP!

[Empat Januari 2011]

Hari di mana kami memutuskan untuk latihan fisik seperti biasanya. Dengan atau tanpa formalitas yang pernah kami alami sebelumnya. Tanpa pendamping. Hanya ditemani oleh semangat baru, ditambah semangat “ngawul-ngawul”, antara Ariel, Grey, dan si autis. Sebuah langkah awal..

[Lima Januari 2011]

22.30..

Sebuah waktu yang harusnya tidak diperkenankan ditulis oleh seorang atlet, bukan? Karena pada dasarnya, ada konsensus bersama di antara kita, kalau hal ini tidak diizinkan. Apalagi ditambah susu coklat dan sebatang rokok yang masih berusaha hidup di atas batu budha. Kalian pasti mengolok-olokku saat tahu. Well, i can’t sleep, gals..(dan ini bukan alasan yang patut dibenarkan).

Hari ini bukanlah kali pertama kita memperbincangkan masalah turun ke sungai dan hal-hal penting yang harus kita lakukan esok hari. Seperti biasa, ada benturan-benturan non teknis yang membuat kita harus tetap setia pada pendirian “saling menghargai”. Karena kita sama-sama tahu dan percaya bahwa kita tidak lahir pada satu wadah – yang mengizinkan kita untuk memiliki waktu yang sama-

Tujuh jam dari saat ini adalah kali pertama kita berlatih menuju Sulawesi. Bertemu dengan teman seperguruan kita, yang lebih familiar dengan nama MAPALA UI. Kalian dengar? MAPALA UI. Tanamkan dalam ingatan kalian, betapa mereka sangat mengganggu telinga kita. Tanamkan pula bahwa kita tidak jauh lebih buruk dari mereka (kecuali dayung tentunya). Mungkin, ada saatnya kita dipertandingkan laiknya Bolang dan Borang, dengan dayung yang sama, dan dengan kekuatan yang sepadan. Kita tetap kalah mungkin… (kalau kita tidak mau mengusahakan sebuah tim yang benar-benar solid).

Jujur kukatakan pada kalian, aku merasakan sebuah aroma ketakutan. Takut kehilangan kawan di belakangku. Lukvi. Dia.. mungkin kali ini dia lebih memilih untuk merintis tahap hidupnya menuju arah yang sudah seharusnya. Bukan bersama kami di atas perahu, bukan bersama kawan timnya yang bersikeras untuk berangkat menuju Sulawesi. Dan tak tahu mengapa, aku benar-benar takut kali ini.

Tahap demi tahap harus kami lalui sebelum kami benar-benar berhadapan dengan jeram yang menanti. Sebuah mimpi yang terus kami tandaskan untuk kami raih bersama. Dan kali ini, kami merangkak lagi dari nol. Sebuah keinginan, dengan rintangan yang tak sedikit..

Sebuah akhir dari hari ini.. dan kuharap, semangat itu tidak luntur!!

[Enam Januari 2011]

Aku shock!! Ada kecoa di kamarku. Padahal menurutku, kamar ini cukup bersih untuk ukuran gadis muda. Meskipun ada sedikit barang-barang Cekak menumpuk di tepian tembok orangeku.

Lupakan..

Aku berdansa dengan tulisan bukan untuk membahas kecoa, hewan coklat dengan hidup yang terbagi dua. Seandainya kami kaum manusia bisa seperti hewan ini, mungkin hari ini aku akan membagi badanku di atas kasur, dan sisanya mengikuti latihan air yang kami jalani seharian tadi. Yap! Karena hari ini mulutku bekerja lebih banyak dari sebelumnya. Maaf adik-adik. Ada program diksar ulang untuk kalian. Edisi khusus hari ini.

Justin : diare dan pusing..

Luke : bimbingan skripsi..

Uul : company trainning..

Jadi, aku berkolaborasi dengan Lelly untuk membimbing adik-adik kecil kami.

Hari cukup panas, perut cukup lapar, tenggorokan cukup kering, kulit mulai menghitam. Dan itu konsekuensi yang kupilih saat ini..

Bicaralah nona, jangan membisu. Walau sepatah kata tentu kudengar.

Tambah senyum sedikit, apa sih susahnya? Malah semakin manis, semanis tebu.

Engkau tahu si hatiku. Semuanya sudah aku katakan. Nanti kamu jawab tanyaku, iya atau tidak, itu saja.

Bila hanya diam aku tak tahu. Batu juga diam, kau kan bukan batu.

Aku tak cinta pada batu . yang aku cinta hanya kamu.

Jawab nona dengan bibirmu. Iya atau tidak itu saja.

Tak aku pungkiri, aku suka wanita, sebab aku laki-laki. Masak suka pria?

Auw kuraslah isi dadaku, aku yakin ada kamu di situ. Jangan diam, bicaralah, iya atau tidak itu saja”

-Iya atau Tidak..(Om Iwan)-

Jawablah kawan.. iya atau tidak? Menuju tim impian kita…

Jawablah, sayang.. Kau akan datang? Jawablah hanya dengan “iya..”. Aku tetap dengan apa adanya aku, hanya diam, dengan segala yang terjadi di sekitar otakku. Meski aku tahu, kau tidak akan menyanyikan lagu itu untukku. Dan kuyakini, kau tetap tidak suka dengan aku yang terus diam..Tapi kemarilah..

[Tujuh Januari 2011]

Sebuah kesempatan yang kami nantikan akhirnya terwujud. Dalam satu malam, kami berkumpul untuk membicarakan segala kemungkinan yang terjadi pada tim kami. Dengan segala permasalahan yang harus kami bahas bersama, kami mencoba untuk berbesar hati dan menghargai kepentingan orang lain.

Dengan sebuah keyakinan untuk mendengar nada yang tidak lagi sumbang, ayunan kaki kami bergerak menuju langkah yang lebih pasti. Ya! Kami berbicara bersama, menemukan satu titik temu yang akan kami jalani bersama.

Meski aku tahu, kawan.. keputusan yang kalian ambil adalah satu bagian dari keegoisan kami. Kami yang tidak ingin menangis untuk kedua kalinya. Kami yang ingin kalian tetap ada di antara kayuhan tangan kami. Kami yang ingin kalian tetap ingat akan mimpi kita bersama. Sebuah mimpi yang harus tetap beriringan dengan kehidupan lain kita. Meski seharusnya tidaklah demikian. Namun kami tetap memaksa.

Aku mengenal seorang wanita yang benar-benar hebat bagiku. Hanya dan hanya seorang ibuku. Ibu yang mandi dengan peluhnya untuk membasuhku dengan air murni. Namun kali ini, aku menambahkan daftar wanita hebat dalam otakku. Uul dan Lukvi. Kalian berkesempatan untuk masuk dalam daftar itu dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya.

Uul, aku tahu dan sadar benar bahwa ada satu pilihan yang harus kami terima pada akhirnya nanti. Bukan sesuatu yang mudah untukmu pastinya. Namun dengan tegar, kau masih bisa mengatakan bahwa kau tidak ingin meninggalkan kami, sebuah tim yang pernah mengisi hari-harimu. Satu kesalutan yang tak bisa kupungkiri. Kau harus melawan segala keegoisan, dan menggantinya dengan sebuah kepasrahan yang harus kami jalani. Kau hebat, wanitaku.

Lukvi, aku pernah berada di posisimu. Tidak bisa bergerak, dan tetap berada dalam satu titik ketika aku memutuskan untuk tetap berkawan dengan sungai. Namun, dengan sebuah keyakinan, aku memintamu untuk tetap bisa melawannya. Melawan keinginan dagingmu untuk tetap bisa mengerjakan apa yang harus kau selesaikan. Semangatlah, karena kau tidak sendiri. Masih ada aku yang harus mengejar segala ketertinggalanku dalam dunia pendidikan. Berusahalah memandang, bahwa sungai ada untuk menggembirakan kita, bukan sebuah halangan yang patut kita jadikan alasan untuk berhenti pada satu masa. Aku yakin kau bisa, kawan.

Dan kudoakan pada kalian semua… Mimpi kita akan berjalan beriringan dengan tim impian kita yang akan terus melaju dengan pesatnya. Tidak bisa tidak, kita harus berjuang dan inilah pilihan yang kita sepakati bersama dari awal perkenalan kita.

Malam ini kuucapkan TERIMA KASIH… karena kita bisa belajar menghargai.. Itu satu bagian yang aku yakin bisa menutup satu poin dosa kita.

Bersambung …

 

Author: LR

mari bereksperimen dengan remahan kata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s