krokettahu

menyelesaikan masalah dengan masalah

Dream Estuary Part 3

Leave a comment

[Tiga Februari 2011]

Benar kan? Aku sudah bilang hari ini akan jauh lebih menarik dari kemarin. Bukan pada bagian berlatih di air. Itu sangat biasa. Dan tidak ada yang istimewa. Karena seperti biasa, kami mendayung, dan lelah.

Bagian yang menarik adalah pada saat kita melihat Bernard menangis. Begitu juga dengan Nury. Hehehehehe. Menarik bukan?

Tentu saja menarik. Tiga jam menanti mereka bercerita satu sama lain bukan hal yang biasa kami lakukan. Sudah banyak hal yang kami lakukan untuk membuat mereka lebih akrab semenjak insiden Ciberang  lalu. Tapi ternyata, TIDAK BERHASIL. Dari pada memakan waktu yang lebih lama, lebih baik kami pertemukan mereka.

Tidak, tidak. Sebelumnya kami tanyai mereka secara terpisah. Seperti yang biasa dilakukan polisi busuk pada saksi atau tersangka utama di kamar interogasi. Kami tanyai mereka, masing-masing sekitar 45 menit. Tentu saja ditambahi bumbu-bumbu gosip, jadi prosesnya lebih lama dari waktu yang seharusnya. Pertama Nury, dan kedua Bispak. Kami menanyakan hal yang sama “Benar kamu pernah begini?”, “benar kamu merasakan hal ini pada..”,” benar kamu..”, dan beberapa pertanyaan standard lainnya.

Bokong kami mulai panas. Ada yang berbelit-belit, ada yang menangis, ada yang tidak tahu harus bersikap seperti apa, ada yang asyik foto-foto, ada yang asyik mendengarkan. Macam-macam, dan akhirnya kami harus melihat Nury dan Bispak menangis bersama, marah bersama. Sangat lucu, karena masalah yang dibahas mereka sangat tidak serius.

Buat apa menangis kalau begitu? Jujur aku ingin melihat kalian saling menampar saat itu. Karena kalian kuanggap bodoh, sangat bodoh! Mulut kalian itu diciptakan untuk bicara, bukan untuk terdiam dan mendongkol. Katakan jika kalian tidak suka, bukan dipendam, dan berkata “tidak enak mengatakannya”. Aneh!

[Lima Februari 2011]

Aul-aul pindah ya? Iya.. Di mana? Di Jalan Pandean I/46a, kamar nomor 18.

Gila! Banyak buanget ini bajunya..Terlepas dari pakaian yang lungsur ke tangan Lelly, sisanya masih sangat banyak. Dan kami berencana menjualnya di Prambanan. Lumayan, bisa dipakai untuk tambahan uang jajan.

Tak cukup sepertinya kami bertemu setiap hari. Hari ini, kami ber haha hihi di kosanku. Lamaaaa sekali. Malam minggu yang ramah. Tanpa laki-laki, dan hanya perempuan yang berbincang. Dan hari ini adalah keuntunganku. Hanya aku yang tidak bisa pacaran, tapi mereka malah datang menemaniku. Emang ke mana pacarnya? Ga tau tuh, nanem bom kali di Irak.

Hehe, terima kasih kawan. Hari ini kalian membuat kamarku sangaaaaattt berantakan. GOD!

[Enam Februari 2011]

Menarik! Hari ini sangat menarik! Kata lainnya menyedihkan!

Kalian tahu?!?!? Judul jurnal yang kubuat ini adalah Dream Estuary..

“Apa si dream estuary, partner?”

Muara dari sebuah mimpi. Mimpi kita bersama untuk berlomba dan menjajal sungai-sungai besar, salah satunya Sulawesi. Tapi barusan, semuanya seakan sirna. Hilang di depan mata. Gila, ini benar-benar gila. Aku bener-bener ga nyangka kalau lomba di Sungai Niwanga harus diundur hingga November.

Sampai aku menulis cerita ini, kepalaku masih cenut-cenut. Berharap ada hujan besar yang datang di atas Sulawesi, dan membanjiri sungai-sungai yang akan dipakai lomba. FUCK!!

“trying to be cool”

Itu kata Lelly. Dan hanya dia yang tampak masih berpikiran positif mengenai lomba yang akan kita jalani, meski pun pada dasarnya tidaklah demikian. Aku? Aku sama sekali tidak pernah bisa menyembunyikan apa yang kurasakan. Beberapa saat setelah pembicaraan dimulai oleh Mas Agung, mataku hanya bisa melotot. “What?”. Setelah itu? Bisa ditebak, aku hanya diam, dan semakin malas menanggapi apa yang mereka bicarakan. Bahkan ketika mereka masih mencoba menghibur kami dengan “CIBERANG OPEN 2011”.

Sebenarnya berita itu masih menggembirakan. Setidaknya, latihan fisik yang kita jalani, pilihan yang pernah diambil oleh beberapa orang, dan komitmen yang pernah kita anggap sebagai dasar dari semangat kita tidak sia-sia. Untunglah! Dan bisa dipastikan kejuaraan tersebut memang benar-benar ada.

SIAL!! Benar-benar sial!

Aku yakin, salah satu dari kita pasti tidak akan rela melepas kesempatan emas ke Sulawesi, dan memberikannya pada adik atau penerus kita besok. TIDAK! Aku tidak membayangkan mereka yang menggantikan kita. Aku sama sekali belum bisa menerima dengan kebulatan hati.

Arrrrrrrrrrrrrrrrrrrrgggggggggggggghhhhhhhhhhhhh!!!!

[Tujuh Februari 2011]

Tidak ada satu pun yang berangkat menuju tempat latihan. Hanya aku dan Lelly. Sebenarnya keberangkatan mereka tidak bisa dikaitkan dengan masalah kemarin. Tapi, aku tetap menyangkutkannya. Kuanggap kami semua tidak bersemangat karena alasan pembatalan lomba. Padahal ya tidak..

Uul harus ke Dieng, mengurus beberapa masalah KKN adik-adiknya.

Lukvi sakit.

Justin masih setia di rumahnya.

Nury mengantar saudaranya ke Solo. Dan aku baru tahu kalau dia memiliki saudara di Yogya.

Greya harus mengurus perizinan pendidikan dasar Majestic.

Dan Titin, dia sudah mendahului kami. Semangat sekali kamu, dik?

[Delapan Februari 2011]

Akhirnya! Semua dari kami berangkat menuju tempat latihan. Tentu saja, karena kami harus menyelesaikan proposal pendanaan yang harus kami kirimkan pada para donatur.

13 juta. Dan dari mana kami harus mendapatkan uang sebanyak itu? Mudah-mudahan kami bisa mengumpulkannya. Entah ditambah dengan penjualan baju bekas, mengirimkan sejumlah proposal, atau berharap akan ada manusia sangat baik yang akan membuang uangnya untuk memberangkatkan kami.

Sisanya, pembicaraan kami berputar di fiksasi tim. Ini.. Bagian ini yang kurang kami sukai. Aku tidak bisa melihat salah satu dari kami harus menangis karena tidak diberangkatkan, padahal dia sudah ikut berlatih bersama kami sekian lama. Terserah siapa pada akhirnya nanti yang akan berangkat, aku hanya bisa berkata “berbesar hatilah hai kau yang tidak berangkat”.

Justin? Yap! Ini seharusnya tidak dilakukan. Besok adalah penentuan siapa yang akan berangkat menuju Ciberang, tapi dia masih di rumah. Ketakutan utamaku adalah, ada pemikiran demikian “Kok Justin tidak ikut seleksi? Berarti tim yang sudah pasti adalah Lukvi, Ariel, Justin, Uul, dan Lelly? Sementara yang seleksi hanya Bispak, Nury, dan Greya?”. Oh no! Bayangkan apa yang terjadi jika ada yang sakit hati karenanya?

[Sepuluh Februari 2011]

Secara mengejutkan, semua terjadi begitu baik hari ini. Secara jujur, kami ingin mengatakan bahwa proses akhir seleksi kalian sendiri yang menentukan, bukan lagi kami, atau siapa pun yang melihat proses latihan kalian.

Self rescue, melihat rasa tanggap kalian pada situasi yang buruk, daya juang kalian, keinginan kalian untuk tetap berada dalam tim ini, dan berbagai hal kalian tunjukkan dengan sangat baik hari ini. Meskipun sangat baik itu bisa berarti : a) memang benar-benar sangat baik, dan b) kalian malah menunjukkan siapa diri kalian sebenarnya. Terima kasih sebelumnya, dengan begitu kami bisa dengan mudah menentukan siapa yang akan berangkat bersama kami di Ciberang besok.

Hhhhh.. itu hanya tulisan, kawan. Tidak semudah itu kami melakukannya. Beban yang begitu berat harus kami tanggung. Proses tiga jam perbicangan kami menutup segala usaha kalian selama ini. Nama yang keluar di mulut kami hari ini adalah Greya dan Bispak.

Untuk Nury, kami minta maaf. Kami melihat banyak perubahan pada dirimu. Dayungan yang membaik menjadi satu nilai tambah buatmu. Tapi sayang, belum ada powernya. Tidak apa-apa, itu bukan masalah, masih banyak waktu yang bisa kalian gunakan untuk memperbaiki apa yang kurang dari kalian. Mengapa akhirnya kami  tidak mau memilihmu adalah karena sisi mentalmu. Bagian terbanyak adalah pada bagian mental. Kami tidak bisa mengajak seseorang yang lebih cenderung untuk menunggu orang lain membantunya. Kau paham, bahwa sungai yang akan kita datangi adalah Ciberang, bukan sungai yang membutuhkan mental cetek. No, no! Kami tidak akan membawamu dalam perahu kami untuk besok. Tapi tenang, kau tetap bagian dari kami. berdoalah, bahwa dana yang akan kami terima begitu besar, dengan begitu kau akan diikutsertakan dalam perlombaan besok. Tentu saja, dengan predikat official.

Dan Lelly, kau yang bertugas memmberi tahu mereka tentang segalanya. Tentang alasan kami, dan tentang semuanya. Sangat berat. Ini adalah bagian yang paling tidak kami suka!! Kami tidak suka melihat satu bagian tubuh kami menghilang. Aku harap, pilihan yang kami buat tidak akan salah. Kami percaya pada kalian, dan tunjukkan pada kami kemampuan kalian. Apa pun yang kalian miliki..

[Empat belas Februari 2011]

Happy Valentine, Gals! Happy Birthday, Mas Agung..

Kenapa baru tanggal ini yang ditulis?

Ya iya, empat hari ke belakang adalah hari-hari tanpa kegiatan yang harus kami lalui?

Kami?

Nope, me, I think..And I’m really hate it!!

Hari yang kami anggap (mungkin) menjadi hari yang berat, ternyata salah besar! Ya, hari ini kami harus mengulang kejadian yang lalu. Memilih salah satu yang harus berangkat bersama kami ke Banten. Congrat for Greya and Bispak. I’m not living in hope that one of you become the precious one. Big no! We had a hunch  that both of you can’t show your best, Nury get a chance to enter the position you get. And I guarantee that. Show that you proper to be here!! Get the point??

Panjang lebar kami menyampaikan beberapa alasan yang melatarbelakangi pemilihan ini. Kami berpikir bahwa akan ada yang sakit hati. Ternyata dugaan kami salah besar. Dengan berbesar hati, Nuri memberikan kesempatan pada dua orang lainnya untuk ikut bersama kita. Dan ingat, Nuri! Kamu masih punya kesempatan yang sama untuk berada di posisi yang kamu incar.

Untuk Bispak. Mengapa berulang kali kamu membuat kami kecewa? Seharusnya kamu sudah bisa berpikir tentang skala prioritasmu. Ada kalanya pilihan yang kita ambil menjadi satu bagian yang berat dalam hidup kita, tapi aku yakin, pilihan itu diadakan dengan maksud tertentu. Dan kamu belum bisa melihat hal itu. Kami kecewa! Benar-benar kecewa dengan kata-katamu “Mbak, gimana kalo aku mundur aja?”

“WHAT THE FUCK??!!!” “Maksud loh??!!”

Come on, kita membuat satu pilihan. Dan untuk mencapai kebulatan suara itu, kami harus menyingkirkan perasaan bahwa banyak yang tidak menyukai peringaimu. Termasuk aku. Pilihan yang ditandaskan itu memerlukan waktu sekian jam dari 24 jam yang kami miliki. GOOODDDD!!! Dan kamu dengan seenak udel bilang kalau mau mundur???

Dan aku tidak mentolerir alasan yang kamu berikan. Hanya karena tidak bisa membagi waktu, antara kuliah dan lomba. Aku tahu persis apa dan bagaimana kehidupan perkuliahan, aku tahu persis bagaimana orang tuaku harus sujud pada orang lain agar anaknya bisa tetap sekolah di Yogya. And I can give my best here! Itu poin yang harus kamu ingat, Bispak!! Bukan hanya masalah uang yang kamu pikirkan! Enjoy your life! Berdamailah dengan keadaan, dan semuanya akan terasa ringan. Jujur, hari ini aku kecewa dengan ucapanmu.

LEBIH BAIK KAMU MUNDUR DARI AWAL!!! JANGAN TERLIBAT DALAM SATU HAL YANG KAMU ANGGAP AKAN MERUGIKAN!! UNTUK APA KAMU IKUT LATIHAN SELAMA INI?? HANYA MEMBUANG UANG MAS ROSYID DAN PIKIRAN KAMI YANG SEHARUSNYA TIDAK TERKURANGI OLEHMU!! SSHHHHIIIITTTT!!! Aku benar-benar marah, dan sayangnya, aku tidak bisa mengungkapkannya secara langsung di depanmu.

Kamu bilang aku adalah salah satu orang yang sensi. Ya, itu benar. Sangat benar. Dan sikapmu yang sering kali membuat aku harus marah dan meluapkan emosi. Kamu diberi telinga untuk mendengar, pakai dengan baik!! Jangan seperti orang tuli yang tidak mau mendengar pembicaraan orang lain. Aku begini adanya. Berkata yang aku lihat dan rasakan. Silakan kalau kamu mau marah dengan segala ucapanku. Karena aku yakin, kamu akan melihat manfaat dari ucapan kotor dan kemarahan yang kami berikan di hadapanmu. Ingat itu! Dan tolong, belajarlah mendengar!

Dan untuk yang lain, maaf.. Tidak seharusnya aku diam dan malah membuat tulisan yang tidak enak dibaca. Biarlah. Karena dengan begini, Bispak akan ingat, betapa banyaknya orang yang tidak suka dengan kebiasaan buruknya. Agar dia mulai membiasakan diri menghargai orang lain.

***

Dan, maaf. Tulisan ini tersendat, karena begitu banyak hal yang harus kuselesaikan. Setidaknya, aku sudah ada kemajuan sekarang. Judul skripsiku diterima. Dan aku bisa meninggalkan Yogya dengan hati tenang.

Maaf lagi, banyak kejadian menarik yang belum kutuliskan di sini. Kemungkinan besar, bagian berikutnya akan lompat pada hari besar yang kita tunggu.. 19 Maret 2011.

Dan benar saja, ini adalah bagian indah yang kita tunggu-tunggu tiga bulan lamanya.. let’s see..

Bagaimana pun, tawa, bahagia, tangis, dan haru tidak akan pernah bisa dipisahkan. Mereka akan terus bertahan, hidup berdampingan bersama kita. Lima belas hari. Dalam kurun waktu tersebut, jemariku terpisah dari keyboard, dan sekarang, aku merasa kesulitan dalam mengetik. Sial! Lebih sialnya lagi, aku merasa kesulitan dalam merangkum apa yang kualami beberapa hari yang lalu. Sebuah kisah yang menarik untuk kubagikan di sini. Dan kalian harus membacanya. Dengan amat seksama! Karena sedikit memakan waktu, kawan.

Semuanya tidak akan kumulai dengan angka yang urut, karena tanggal yang kuselesaikan tidak pernah terlewat dari kata “TAWA”. Aku mengingat semuanya dengan baik, tapi sulit untuk diurutkan. Aku ingat saat Lukvi terlambat datang ke Stasiun Tugu. Aku ingat saat Greya datang terburu-buru bersama Dhangku dan Kohyen (mereka terburu-buru datang dari LEMPUYANGAN).  Aku  ingat saat Udin meninggalkanku dengan alasan “Ngantuk” (what? Come on!!!). Aku ingat saat kita berebutan tempat duduk di atas Malabar. Aku ingat saat Lelly melongokkan kepala, memastikan kami mendapatkan pasangan yang pas di atas tempat duduk yang kita pesan. Aku ingat saat Jono masih berusaha duduk di antara wanita-wanita kesayangannya.

Aku juga ingat bagaimana golongan penidur menata kakinya, berusaha mendapatkan posisi terbaik saat malam menjelang. Dan di sisi sebaliknya, para pencerita terus tertawa terbahak hingga subuh menjelang. Aku ingat jelas, kami terbangun bersama, merasa bingung, di mana kami harus turun, di mana kami harus menginjakkan kaki agar perut kami tetap selamat. Dan Ganesha, kalian yang menjadi pilihan kami. Untuk bahasa kasarnya, kami numpang hidup selama beberapa waktu di tempat kalian. Kalian tidak tahu kan bahwa itu adalah salah satu rencana survival kami?

Aku ingat saat kami dijemput mobil hitam, berbagi tempat duduk dengan alat, dan berdesakan seperti ikan asin. Aku ingat bagaimana muka kalian menahan isi perut agar tidak keluar. Kalian pasti berpikir bahwa “aduh, sayang nih makanannnya. Kita kan ga ada duit cukup buat beli makanan lagi.”. Jadi, kalian terpaksa menahan rasa mual, dan duduk terdiam di sandaran kursi masing-masing. Tamarin yang kubeli tentu berguna saat itu, satu per satu dibuka, dan terus dikunyah hingga tempat yang kami tuju datang. Mata kami berputar-putar, bibir kami sibuk bergerak-gerak, menahan liur yang semakin asam. HoAx! Bagian ini terlalu buruk untuk diceritakan dengan kata-kata yang menarik.

Aku ingat saat tahu bahwa batuan di Sungai Citarum itu buruk rupa. Berbeda dengan batuan sungai lain yang berwana pekat. Dia pasti anak batu yang dibuang orang tuanya. Cokelat, diselipi beberapa tetes air yang tergenang. Kasihan batu-batu itu ya? Selama beberapa hari, mereka pasti merasa beruntung karena tidak ada aliran berbau telur busuk di badannya. Stop,stop! Kenapa bisa lihat batu di bawah sungai? Ow, itu karena turbin di bendungan sedang diperbaiki, jadi, kami bisa leluasa untuk melihat betapa buruknya Citarum jika tidak dialiri.

*Aku benar-benar merasa kesulitan untuk membuka mata! Waktu : 12:36.. Padahal aku baru bangun. Badan lemas. Dan merasa belum siap kembali ke dalam kehidupan semula. Wind Me Up!! Aware, Riel!!*

Mata-mata itu tetap tertunduk. Sama sekali tidak ingin menyapa wanita-wanita yang datang. Kami kurang apa? Kurang berbobot seperti Bispak? Aku tahu kalian begitu mengidolakan Bispak ketika pertama kali melihat kami, tapi kalian kan tidak perlu menjauhi kami. Dasar! Kalian kan sudah ditawari untuk duduk satu bangku bersama kami. Kalian malah tidak mau. Apa-apaan itu? Indra, kamu memang pintar. Memilih duduk bersama wainta-wanita ayu dari Yogya. Dan buktinya, Indra selamat sampai di Ciberang. Tidak terluka sedikit pun.

Dan adik-adik, selama beberapa jam, kalian harus berbisik-bisik menahan tawa karena ada Bispak di mobil kalian. Itu surprise yang kami bawa dari Yogya. Oleh-oleh khusus untuk kalian.

capture

Speciffically for my brotha…

Kalian perlu tahu, bahwa kami merasa aneh ketika kalian sama sekali tidak ingin menyapa kami. Geregetan! Tahu artinya geregetan? Satu tindakan di mana kami ingin menarik rambut kalian, mencubit pipi dan tangan kalian. Eh, bukan ding. Itu namanya gemes, bukan geregetan. Pokoknya, kalian adalah sosok yang menyebalkan ketika pertama kali bertemu.

Kata Jono, kalian pasti malu bertemu kami. Waktu itu, kami tetap ngeyel bahwa kalian adalah sosok yang menyebalkan, bukan sosok menyenangkan yang akan menemani perjalanan kami. Sebel!

Kami berusaha mencairkan suasana, berusaha mengajak kalian bicara, tetap saja kalian diam. Kenapa sih? Kalian takut dipukul Bispak?

…..

Pada akhirnya, kami tahu, bahwa kalian benar-benar malu. Ya ampun, kita itu kan sebaya kalian, ga usah canggung donk. Kita asyik kan? Setidaknya, selama beberapa hari, kalian bisa menikmati wajah-wajah unik kami. Mbak Lukvi yang putih dan cantik (selalu, di mana pun) – Mbak Ariel, salam ya buat yang kiri tengah. By : Wisnu-

Mbak Justin, salam sayang dari Rendi. Kalian pasangan autis yang paling klop. God! Selamat ya, Justin. Aku baru sadar kenapa kalian bisa klop.

Mbak Lelly, wajah Jawa yang benar-benar Jawa, kalian pasti tidak mengira bahwa dia adalah ibu-ibu tua yang sok muda. Jadi, kalian tetap menganggap bahwa dia adalah sesosok remaja SMP.

Mbak Uul, ini khusus kutulis untukmu. Kami baru membicarakannya waktu kalian sudah di Yogya. Anak-anak kecil ini melihat dirimu seperti gadis Pakistan. What?????? Huakakakakakakakakakakakakakakakakakakak.. Hidung mancung, muka lonjong, bahasa medok, tangan gerak-gerak waktu bicara, enak diajak becanda. So, kurang apa? Ini informasi akurat yang kudapat tentang kamu, Uul. Jadi, kapan kita bicara tentang fee yang akan kudapat untuk mengganti info ini?

Mbak Greya, kenapa sukanya diam? Grey, cuma itu pesan mereka.

Mbak Bispak, stopper, polisi tidur, or anything else, you’re really my world there!! Sans, Pak! Kamu bener-bener buat kita bahagia di sana. Antara pengen ketawa, pengen nggepuk, pengen meluk, haha. Kamu yang pede di mana-mana. Salut. Aku bener-bener salut sama kamu, adik..

Mbak Ariel.. ini, ini dia.. kalian tahu lah ya bagemane diriku? Sangat menarik, sangat cantik, sangat pintar, sangat putih, dan sangat menyenangkan.

Adiks, kami benar-benar bahagia bisa bertemu dengan kalian. Kalian sosok-sosok yang mengagumkan. Pada bagian ini mungkin aku tidak bisa mengutarakan apa atau siapa kalian. Kami bertemu dengan kalian dalam rangkaian waktu yang tidak terlalu panjang. Kami sadar, sesadar-sadarnya, bahwa kami suka berada di antara kalian. Entah kami merasa memiliki adik, entah karena kalian menyenangkan, entah karena kalian suka bermanja-manja, atau karena kami memang suka menjadi wanita muda (selalu).

Susah ya. Sangat sulit mengutarakan apa yang ada di benak kami. Kalian tahu? Di Ciberang, kami benar-benar ketagihan mengunjungi camp kalian. Sampai ada yang rela nungguin Bispak boker lo. Ngak ngak nggaaakk…Sudahlah, intinya, kita naksir kalian! Kita berasa muda 10 tahun kalau sama kalian. Berasa jadi ababil lagi. Berasa ada cowok yang kita incer lagi, meskipun pada dasarnya sebagian dari kami sudah dipatenkan jadi hak milik lelaki tua.

Ariel : “ sebenernya kalian nganggep kita apa? Kalian kayak ga pernah ketemu cewek aja. Nganggep kakak?”

Rendi : “kaya semut ketemu gula…”

GGOOOODDDDD!!!! Rayuan tingkat satu untuk anak seusia kalian. Aku masih inget betul waktu Wisnu nitip salam buat Lukvi. Kalah nak dirimu. Banyak yang nitip salam buat dia. Kamu adalah orang kesekian yang nitip salam buat dia. Tapi untungnya, kamu adalah salah satu yang mendapat perhatian dia. Mungkin karena dirimu suka merhatiin gaya bicara kita. Kamu duduk manis di sebelah kita, ndengerin kita bicara, dan menghafal tiap kata yang kita ucapkan. Anak pintar! Aku sama Lukvi sempet ngobrol, “ini anak termasuk cerdas.”. Jadi, itu adalah satu poin plus buat kamu.

Naga, Lucky, Dodi.. Hei kalian! Ketemu pasti ga pernah ngobrol. Sekalinya ketemu, langsung ngeluarin kata-kata lucu. Aneh..Kalian jarang ada di camp, suka jajan jarak jauh pula. Ternyataaa.. kalian pasti nyari cewe kan? Iya kan?

Anggi.. Ini bukan bagianku buat cerita sepertinya ya. Ada yang lebih paham sepertinya. Sama aja kayak Rendi, emosian..

Rival.. suka gerak-gerak ga jelas. Gilak!! Kamu mirip buanget sama adikmu. Dari badan, suara, sampai suka gerak-gerakin kaki ga jelas. Itu otot apa gundukan tanah si yang di lengen kamu? Gede beud??

Indra.. Pria muda berparas dewasa. “Mbak, Bapak kamu TNI ya?”

“Bukan, kenapa emang?”

“Kamu udah njeder-njeder hatiku..”

ASTAJIIIMMM!!!!

“Ndra, Bapak kamu tukang jual krupuk ya?”

“Bukan, kenapa emang?”

“Kamu Crispy….”

Kalian satu-satunya tim yang bikin kita kangen.. Beruntung banget ketemu kalian, guys.

Bagian terbesar yang kami idam-idamkan selama latihan adalah bisa berlatih bersama Kapinis. Dan kami mendapatkannya di Ciberang. Sebenarnya tidak ada yang berbeda dengan latihan kami biasanya. Tapi, kami (aku aja kayaknya) tidak tahu bahwa ferrying adalah salah satu teknik manuver. Kami juga tidak tahu bahwa duduk ngangkang ala Mapala UI itu adalah salah satu teknik duduk pendayung cano. Ini bukan karena kami (aku) bodoh yak, tapi telat info yang masuk.

Kami grogi panggung. Ow, itu benar. Evaluasi terbesar kami saat itu adalah “KAMI GROGI KARENA DILATIH KANG WAWAN” (Luke, aku berat menuliskan dua kata terakhir ini..). Dayung, dayung, dayung, dan tertawa. Kalian ingat, kawan? Air cokelat yang kita idam-idamkan? We got it!! Aku yakin, kita bisa melewatinya tanpa ada satu pun dari kita yang jatuh, karena kita bahagia, karena kita tertawa ketika melewatinya. Aku ingat betul bagaimana kita berteriak bersama, dan aku ingat betul bagaimana Bolang menunggu kita sambil ikut tertawa.

BONUS!!! Ada tiga orang Brimob yang jatuh dari perahu karena debit air yang meningkat tajam. Tapi, kenapa mereka masih bisa berdiri di air yang segitu gede? Dasar Ciberang tukang bo’ong..

Gemes lihat mereka hanya berdiri di tepian  jeram dan pojokan tebing. Kenapa sih kalian? Seakan hanya berhadapan dan memanggil-manggil satu sama lain. Padahal, derita kalian bisa cepat selesai kalau kalian memberanikan diri terjun dan berenang jeram. Ah, payah kalian! Itu poin kesekian yang membuat kami ilfil sama Brimob. (Selain tepukan pemanggil ayam ala kalian).

Bersambung …….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s