krokettahu

menyelesaikan masalah dengan masalah

Day Dreaming – Cracked

1 Comment

Ada jenis manusia yang memang layak untuk ditinggalkan, tapi tidak ada manusia yang layak untuk dikhianati (Falla, 2016).

Cerita ini ditulis dalam rangka memenuhi janji saya ke diri sendiri, hahaha.
#nohardfeeling

—————————————

Setiap orang pasti punya gambaran ideal terhadap sesuatu. Apalagi perempuan. Pasti punya itu. Entah gambaran ideal tentang kencan paling sweet, ditembak kecengan dengan cara romantis, atau day dreaming liburan impian. Sayapun demikian.

o-DAYDREAMING-CHILD-facebook

Foto dari Gugel

Sekitar 2015 menjelang akhir, saya mulai untuk memunculkan kembali minat baca saya yang sudah lama tenggelam. Beberapa novel saya babat. Dan salah satu novel yang berkesan saat itu adalah Critical Eleven punya Ika Natasha. Novel tersebut bisa digolongkan novel pop mainstream yang ringan dan cewe banget ceritanya.

Gara-gara baca buku saya akhirnya punya day dreaming gimana kalau ketemu dengan pasangan di pesawat (cem adegan Ale dan Anya di buku itu)

And then, saya sudah lupa tentang hal itu, karena kesibukan seabreg. Hahahaaa

Sampai suatu hari, di Desember 2016, saya harus pulang ke Jogja buat ambil cuti libur natal yang panjang. Malam sebelumnya saya begadang, karena harus ngirim orderan yang cukup banyak ke Bali. Tidur jam 6 pagi, dan bangun jam 8 untuk bersiap menuju bandara. Heboh dong, buru-buru. Untungnya tidak  telat sampai ke Bandara.

Sampai ke bandara, saya berjalan santai menuju ruang tunggu lalu mencari tempat untuk duduk. Di ruang tunggu, saya sibuk main HP cukup lama sampai ada notifikasi bahwa baterai HP saya sudah mau habis. Saya masih tenang, karena saya berpikir saya bawa segala macam keperluan per-HP-an. Ternyata tidak. Saya kelupaan bawa kabel HP dongs. Cuman bawa power bank. Haish.

Yasuda, dengan modal percaya bahwa pasti ada orang yang pake Iphone 5 (at least), sehingga kabelnya bisa saya pinjam. Ternyata menemukan hal kaya gitu g gampang. Lols. Keliling-keliling, saya tidak berhasil melihat orang yang pake Iphone 5 satu ruang tunggu saat itu. Kalaupun ada pasti sedang dipakai kabelnya. Jadi g mungkin saya pinjam.

Pasrah, saya memilih duduk di kursi kosong. Air plane mode supaya hemat baterai yang tinggal 7%, karena nanti mau saya gunakan untuk ngabari adik saya supaya dijemput.

Saya mencari kesibukan lain dengan membaca buku Murakami (pinjeman). Well, sepertinya ini bisa dijadikan buat tips mbak-mbak jomblo yang mo berpergian naik pesawat, jangan lupa bawa buku bacaan, so jadi ketika menunggu atau kala pesawat delay, bisa duduk cantik sambil baca buku (sok melek literasi gitu). Dan itu terlihat menarik. Trust me #kedip

Sewaktu baca, datanglah mas-mas. Duduk di sebrang saya, kemudian mengeluarkan Iphone 5. Bagai dapat durian runtuh, bagai kucing mendapatkan ikan asin. Seperti biasa, sayapun langsung dengan nekat tanpa tedeng aling-aling nyamber, “Mas, boleh pinjem kabelnya? Punya saya ketinggalan.” Hahahaa.

Yes, di situlah titik dimana day dreaming perlahan mulai real, thank you. Meski gak kaya di Critical Eleven, yang ketemu dan duduk bersebelahan dalam pesawat, tapi ini uda cukup romantis kaannn.

Maksudnya apa? Intinya, mas-mas itu kemudian mbribik saya (what is mbribik? Mmmmm,  nganu kalau mau tau artinya bisa minta tulung translate wong Jawa yang dikenal :p). Katanya sih, emang doi mo ngajak kenalan dari awal, tapi bingung darimana. Dan secara kebetulan saya membuka pembicaraan.

Mungkin kalau diceritakan atau dialami lebih manis sih ceritanya daripada tulisan saya di atas. Hahahaaa

Namun ada yang harus diingat, segala hal yang berawal manis, tidak selamanya berakhir manis. Ada perjuangan berdarah-darah, halah lebay, namun hasil embuh. Doesn’t work. Kaya cerita La La Land.

Dan ternyata g sedikti teman-teman saya mempunyai day dreaming yang kurang lebih mirip. Kebetulan saja, saya diberi kesempatan buat merealisasikannya.

Niru tagline mojok.co (yang uda tutup) : Dimulai dengan gembira, ditutup dengan bangga. Kalau hubungan saya, dimulai dengan manis, ditutup dengan sinis, eh manis. Penutupannya manis sebelah manaaaaaa? Ya, saya anggap manis, karena pertemuan terakhir, di depan mas Chris Martin yang nyanyi Something Just Like This, Singapore (aslinya sih lumayan jauh sebelum itu, biar keliatan romantis aja ceritanya :p).  Endingnya, dipisahkan di bandara, Soeta. Tempat kami bertemu.

#lunas

Ps.
Mungkin tulisan ini bakal unpublish kalau suatu hari nanti kamu memintanya. Iya kamu,  kamu yang sedang baca tulisan ini, yang kelak akan menjadi teman hidup saya. Etdaaaaahhhhh.

Author: LR

mari bereksperimen dengan remahan kata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s