krokettahu

menyelesaikan masalah dengan masalah

Umroh itu Perjalanan Pribadi

2 Comments

“Perjalanan itu bersifat pribadi. Kalaupun aku berjalan bersamamu, perjalananmu bukanlah perjalananku”. – Paul Theroux

Umroh kemarin merupakan perjalanan yang bersifat sangat pribadi buat saya. Tidak banyak yang saya kabari atau tau kalau saya umroh kecuali keluarga inti, teman dekat, dan Pak Bos tentu saja (kalau gak, gimana minta ijinnya). Teman-teman kantor pun tidak tahu. Mereka baru tahu setelah saya pulang. Itupun karena oleh-oleh yang saya bawa. Tidak lazim memang, tapi entah kenapa, saya merasa perjalanan ini benar-benar personal.

Sedikit berbagi, saya pikir, memang umroh sebaiknya segera dilakukan, ketika kita masih muda, ketika kita masih kuat. Kenapa? Karena selagi masih muda dan kuat, maka lebih banyak ibadah yang bisa dilakukan di tanah suci.

Selama ini umroh dan haji di Indonesia, identik dengan orang tua. Tapi memang begitu. Kebanyakan memang dilakukan oleh orang tua. Kalaupun ada yang masih muda, itu menemani ibu/bapak/nenek/kakek.

Kegiatan umroh cukup menguras tenaga, makanya persiapan fisik menurut saya perlu. Supaya apa? supaya di tanah suci dalam keadaan sehat dan bisa beribadah sebanyak-banyaknya. Bisa umroh sesering mungkin. Melakukan umroh (mulai dari ihram, tawaf, sa’i, sampai tahallul) selama 4 hari di Mekkah saya hanya mampu melakukan 2x saja, itupun dalam sehari saya hanya mampu sekali.

Apakah perempuan harus selalu bersama mahram selama umroh? Sepengalaman saya, sendirian juga aman kok. Entah kenapa, saya merasa aman, sangat aman bahkan. Saya bolak – balik dari hotel ke Masjidil Haram sendirian tidak masalah. Memang sebaiknya ditemani, namun kondisinya saat itu adalah, saya sekamar dengan 4 orang nenek. Saya tidak bisa memaksa mereka untuk sering ke Masjidil haram. Mereka butuh istirahat lebih banyak dibanding yang lebih muda. Kemana adik saya ? saya tidak tahu. Dan saya tidak mau membebani adik saya untuk selalu menemani ke Baitullah. Seperti yang sudah saya bilang, ini perjalanan bersifat sangat pribadi. Dari awal saya niatkan untuk beribadah. Saya tidak berfikir macam-macam, hanya ibadah.

Apa saja yang saya lakukan di sana?

Well, pagi hari, saya setup alarm saya jam 3 dini hari. Kenapa? supaya saya bisa sholat subuh di dalam Masjidil Haram. Emang sholatnya jam berapa sih ? jam 5. Kalau saya berangkat jam 3, sebelumnya saya bisa sholat sunnah, tahajud, dan mengaji. Lalu saya bisa menunggu syuruq sambil mengaji lalu lanjut dhuha. Setelah itu saya baru kembali ke hotel untuk sarapan, saya hanya kembali ke hotel buat makan. Hahhaaa

Intinya selama di Masjdil Haram kamu bisa ibadah sunnah seperti :

  1. I’tikaf (rasanya beda, selama di sana semangat buat beribadah selalu full). Jangan khawatir lapar ketika i’ktikaf seharian, karena setiap sore, di hari Senin, Kamis, Jumat akan selalu ada orang yang bagi-bagi makanan (karena ada yang puasa senin-kamis, dan Jumat mungkin dianggap hari baik untuk bersedekah).
  2. Mengaji.
  3. Sholat sunnah sebanyak-banyaknya. Kata pemandu umrohnya, kita bisa sholat sunnah kapanpun. Tidak ada batasan waktu.
  4. Sholat tasbih, saya baru tau tentang sholat tasbih ketika umroh. Dan setidaknya dalam seumur hidup setidaknya pernah sekali melakukan sholat tasbih. Saya juga memperlajarinya langsung ketika umroh, dipandu Gugel tentunya. Untunglah saya daftar paket data umroh. Jadi saya kemana-mana sendirian tidak tersesat dan jika butuh panduan bisa langsung buka Gugel.
  5. Sedekah, bisa dalam banyak bentuk, memberi uang kepada yang membersihkan masjid atau membawa makanan di Senin – Kamis sore untuk dibagikan kepada orang yang berpuasa.
  6. Saya coba ingat-ingat lagi, tapi memang sebaiknya sebelum umroh atau haji bahkan, baca-baca mengenai amalan / ibadah yang bisa dilakukan.

Hal-hal kecil yang perlu diketahui

  1. Di Masjidil Haram, setiap sehabis sholat wajib, jangan langsung sholat sunnah. Kenapa? karena setelah sholat wajib biasanya tidak lama kemudian imam akan melakukan sholat jenasah berjamaah. Sebaiknya ikuti saja, sholat jenasah dulu, dan sholat sunnah bisa dilakukan setelahnya 🙂
  2. Di Masjid Nabawi, setiap sehabis sholat wajib, ajakan sholat jenasah berjamaah tidak secepat di Masjidil Haram, jadi jeda waktu lepas sholat wajib dan sebelum sholat jenasah berjamaah cukup untuk melakukan sholat sunnah 🙂
  3. Tidak perlu mencium-cium dinding Masjid Nabawi atau di raudhah sambil menangis. Ini syirik.
  4. Ikuti saja pemadunya, hahahaaa

Intinya, umroh itu menyenangkan dan menenangkan. Charging rohani. Mau banget balik ke sana lagi, baik untuk umroh atau haji, pengennya sih kalau ke sana lagi sama suami, hahaahaa 🙂

Setelah umroh ko ga berhijab?
Well, ini berbeda sih (excuse) hahaaa. I’ll use it when I’m ready for it. Kapaaann? ya belum tau. Too personal to explain.


 

2 thoughts on “Umroh itu Perjalanan Pribadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s