BAGAIMANAPUN, PERPISAHAN ITU TIDAK MENYENANGKAN #2 (Selamat Tinggal)

Sebelumnya aku pernah menulis bahwa perpisahan itu tidak menyenangkan.

Dan itu masih berlaku hingga sekarang.
Beberapa hari lalu, salah satu tragedi perpisahan yang menyebalkan bagiku. Oke, mungkin kata tragedi terlalu lebay, tapi apapun itu, it’s hurt, setidaknya buatku sendiri.

Setenang dan sehalus apapun diucapkan, berita buruk akan tetap terdengar seperti badai, pun dengan kata “slamat tinggal”, sangat menusuk, apalagi diucapkan oleh orang yang pernah memiliki mimpi yang sama.

Teringat ketika perisahan dengan anak-anakku, aku tak mengucapkan kata “slamat tinggal” pada mereka, anak-anakku, mamak dan bapakku, serta keluarga baruku yang lain di sana. Karena kata slamat tinggal itu menyakitkan. Maka aku bilang pada mereka, “sampai jumpa” lagi, karena di dalamnya terdapat harapan dan doa, untuk bertemu kembali, dalam keadaan yang lebih baik tentunya. Meski demikian, kata sampai jumpa, bisa membuatku menangis di depan anak-anakku ketika upacara bendera. Karena, itu adalah perpisahan.

Kemudian, aku harus mengalami lagi apa itu perpisahan, dengan kata “slamat tinggal”, dan itu sangat menyakitkan buatku. Nyeri bukan hanya punyamu, begitupun aku. Damn hard.

Banyak yang ingin kusampaikan, akhirnya kuurungkan saja, karena akhir-akhir ini aku semakin sering meracaukan kesemrawutan pikiran dalam tulisan, dan akhirnya jejak hina pikiranku terdokumentasikan. :I

Did I hurt you that bad? So sorry. I don’t have a better word than sorry.
I don’t have any intention to do such terrible thing, my dear.
We just don’t fit, I guess.
Take care.

3 thoughts on “BAGAIMANAPUN, PERPISAHAN ITU TIDAK MENYENANGKAN #2 (Selamat Tinggal)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *