Aaaarrrrggghhhh !!

Buttutala, 2 April 2013

Frustasi kali ini kurasakan. Yah, aku harus benar-benar menekan emosiku. Berkali-kali hari ini aku menghela nafas. Ingin ku berteriak “Cangookkkk !!” yang artinya bodoh. Namun itu tidak kulakukan, itu tidak boleh kulakukan. Continue reading “Aaaarrrrggghhhh !!”

Mereka dan Penggaris

Penggaris bukan hal yang asing bagi kita semua. Begitu juga dengan anak-anakku di SDN 33 Buttuala. Mereka sudah cukup akrab dengan penggaris. Sehari-hari mereka sudah terbiasa membuat garis dengan benda itu.

Akan tetapi, ternyata, penggaris bagi semua anak-anak SDN 33 Buttutala hanya digunakan untuk membuat garis. Continue reading “Mereka dan Penggaris”

Buttutala #1

Malam semakin larut, suara jangkrik dan kodok bersahutan membentuk suatu harmoni yang khas daerah pegunungan. Malam ini udara tidak terlalu dingin, sudah seminggu hujan tidak turun. Meski sudah tujuh hari tidak turun air dari langit, alhamdulillah persediaan air masih aman. Continue reading “Buttutala #1”

SULTAN

“Bu Guru, seharusnya ibu tidak menyuruhnya keluar. Besok pasti dia tidak masuk sekolah”.  Kata Sultan ketika emosiku sudah memuncak dan akhirnya mengusir Bambi keluar kelas.

Lalu dia berlari keluar kelas memanggil Bambi. Continue reading “SULTAN”

Lampu Kamar Baru

Sudah 10 hari mesin genset di Buttutala rusak. Hal ini membuat dusun Beroangin tanpa listrik sepanjang hari tersebut. Gelap. Hanya masjid yang masih menyala sehabis maghrib karena menggunakan tenaga surya, tapi itupun bertahan hanya 2 jam dan dimanfaatkan untuk mengaji anak-anak. Continue reading “Lampu Kamar Baru”

Uceng

Uceeng
Uceeng

Aku : “Berapa saudaramu ceng?”
Uceng :  “Empat belas Bu, tapi mati tiga (sambil senyum-senyum)”.

Aku hanya bisa tersenyum ketika dia menggunakan kosakata mati untuk saudaranya yang meninggal. Seolah-olah itu hal yang biasa. Continue reading “Uceng”

Pertemuan Pertama dengan Buttutala

Sebuah ketidak konsistensian diri. Saat ini sedang ingin menggunakan aku.

Cerita ini aku tulis setelah hampir 3 bulan keberadaanku di lingkungan baru yang bernama Buttutala. 

Sejauh dan seliar apapun imajiku melanglang buana, aku tak pernah tahu kapan dan di mana petualangan besar akan dimulai. Aku hanya memiliki kaki-kaki kecil yang setapak demi setapak mengalami kehidupan, menembus ruang dan waktu. Continue reading “Pertemuan Pertama dengan Buttutala”

Road to Indonesia Mengajar Part 2 of 2 (Direct Assessment)

Saya akan bercerita sambil mengingat-ingat bagaimana saya akhirnya bisa sampai tahap ini. Tahap ini? ya, tahap dimana saya akhirnya bisa mengikuti pelatihan Indonesia Mengajar nanti pada tanggal 10 September nanti.

Tahap kedua ini dinamakan Direct Assessment (DA), yang artinya kurang lebih penilaian langsung (sepertinya begitu), saya tidak tau arti sebenarnya :p. Continue reading “Road to Indonesia Mengajar Part 2 of 2 (Direct Assessment)”

Perjuangan Kartini

Sudah pukul 03.00 dini hari, dan belum ngantuk, lalu muncul keinginan belajar menulis

Selama ini saya hanya mengetahui Kartini adalah pejuang bagi kaum wanita yang memperjuangkan hak-hak wanita yang pada saat itu belum terpenuhi. Dan kemudian disebut emansipasi.

Dan saya membaca salah satu kolom harian dari Kota Pelajar tertanggal 19 April 2012 mengenai Kartini, saya menemukan kalimat ini :

Kartini duwe gagasan, bocah wadon kui ora beda karo bocah lanang babagan hak pendhidhikan. Apa meneh bocah wadon kui calon biyung, saengga kudu duwe kapinteran kanggo sangu mulang anak-anake

Dari situ saya (baru) mengetahui bahwa perjuangan yang diperjuangkan Kartini pada saat itu salah satunya adalah perjuangan kesetaraan hak pendidikan sehingga perempuan memperoleh hak pendidikan yang sama dengan laki-laki. Bukan perjuangan emansipasi dalam segala hal yang dianggap oleh kebayakan orang, termasuk saya. Pendidikan adalah penting buat seorang calon ibu serta pentingnya pendidikan untuk perempuan adalah supaya tidak mudah dibodohi.

Menurut saya bagaimanapun juga perempuan dan laki-laki tidak dapat disetarakan dalam segala aspek. Perjuangan Kartini pada masanya adalah perjuangan untuk membuat perempuan dapat membaca dan menulis yang artinya adalah perjuangan untuk memperoleh pendidikan.

Setinggi apapun pendidikan perempuan, sepintar apapun perempuan tanggung jawab utamanya adalah mendidik anak-anaknya. Kesetaraan bukan alasan perempuan untuk meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu dan kemudian mencari kekuasaan, ketenaran dan atau uang sebanyak-banyaknya. Karena yang terjadi kebanyakan saat ini adalah perempuan yang agak kebablasan menjalankan salah satu perannya dari multiperannya (sebagai istri, ibu dan mengembangkan dirinya sendiri). Emansipasi dijadikan alasan untuk tidak menjalankan tugas utamanya sebagai ibu dari anak-anaknya. Jika hal itu terjadi, itu bukan emansipasi tapi lebih kepada ambisi.

Bolehlah kita (perempuan) menjadi pribadi yang tangguh dan cerdas asal tetap bertanggung jawab terhadap tugas utamanya sebagai seorang perempuan. Karena perempuan memang spesial diciptakan oleh Tuhan dengan kodratnya yang akan menjadi istri bagi suami dan ibu bagi anak- anaknya.

Terima kasih Kartini..

Selamat Hari Kartini !!!