Membaca dan Menulis itu Terapi

Beberapa bulan ini saya kembali menekuni hobi membaca saya yang nyaris hilang sejak 2012 lalu.

Bisa dibilang tahun ini adalah rekor buat saya. Dimulai dengan perkenalan sebuah buku berjudul Sabtu Bersama Bapak (ini buku keren banget), karya Adhitya Mulya yang dikenalkan oleh Rakhma. Dari situ saya mulai melirik penulis-penulis Indonesia yang kekinian.

  1. Hujan -> aneh, hanya baca beberapa halaman, tidak cocok dengan gaya bahasanya
  2. Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas -> sudah selesai tapi masih merasa belum cocok dengan gaya penulisannya
  3. Antalogi Rasa -> biasa aja
  4. Critical Eleven -> bagus
  5. The Architecture of Love -> sangat biasa
  6. My Stupid Boss #1 -> gokil abis
  7. My Stupid Boss #2 -> kocak
  8. Twivortiare -> lumayan
  9. Divortiare -> hmm
  10. Divortiare #2 -> hmmm
  11. Dilan -> boleh juga
  12. Dilan #2 -> hmm
  13. Milea -> belum selesai

Dalam setahunΒ sudah ada 12 buku. Itu rekor sih. Setelah vakum sekian tahun.

Buat saya, membaca dan menulis itu memiliki korelasi yang kuat. Semakin sering saya membaca, maka saya merasa semakin ingin menulis. Dari menulis saya belajar untuk lebih banyak berpikir dan jujur terhadap diri sendiri.

Menulis itu merupakan terapi tersendiri bagi saya. Terapi untuk mulai menyampaikan apa isi kepala, isi hati dengan bahasa yang lebih tertata dan jujur. Bukan berarti saya suka bohong, bukan. Saya adalah orang yang sulit sekali mengungkapkan apa yang ada di kepala. Tidak instan, tapi perlahan-lahan. Semoga. Sabar ya πŸ™‚

*ps. Ini tidak ada riset atau penelitian ilmiahnya, ini hanya asumsi sendiri. hahhaaa


Jakarta, 31 Oktober 2016
Backsound : Agnes Mo – Sebuah Rasa, duh mbak lagumu nggerus ati

2 thoughts on “Membaca dan Menulis itu Terapi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *