beberapa style duduk dalam arung jeram

Duduk di perahu karet sebenarnya tidak ada aturan mutlak, karena tergantung dari rasa keseimbangan dan kenyamanan yang dipunyai oleh tiap awak perahu.

Ini adalah beberapa style duduk ketika berarung jeram yang saya ketahui dan berhubung  saya agak-agak lupa, correct me if I’m wrong 🙂

a) Cowboys Style

Posisi mendayung ini dilakukan dengan cara duduk ditabung perahu dan posisi kaki direnggangkan untuk menjepit tabung yang berfungsi menjaga keseimbangan tubuh diperahu. Kelemahan duduk di posisi ini adalah kaki yang ada diluar perahu bisa berakibat fatal karena sebagian anggota tubuh kita berada diluar yang bisa terbentur dengan stopper ataupun tebing yang ada disekitar sungai tersebut. Maka dari itu cowboy style biasanya (paling cocok) diperagakan hanya pada arus yang tenang. Teknik ini berasal dari Amerika karena pada waktu itu perahu yang digunakan adalah perahu karet jenis LCR yang tidak ada toward.

perahu LCR
LCR

b) Ladies style/ Nantahala style.

Nantahala style berasal dari Amerika. Posisi ini digunakan dimana kedua kaki berada didalam perahu dan biasanya ujung kaki diselipkan pada tempat yang telah disediakan. Posisi ini seperti seorang perempuan membonceng sepeda motor, kedua kaki masuk kebagian dalam perahu. Untuk mendayung agar perahu bergerak, tetapi jika memang dibutuhkan kecepatan tambahan maka gagang dayung dimasukkan kedalam air dan dikayuh dengan sekuat tenaga,seluruh otot perut dan lengan dikerahkan untuk mendapatkan tenaga yang optimal dan efektif. Posisi itu sangat nyaman karena jauh dari benturan batu atau tebing.

Tim Borang

Posisi ini paling banyak dikenal dan diperkenalkan di kalangan rafter, peserta fun rafting serta operator arung jeram. Ini adalah posisi duduk yang saya kenal pertama kali ketika belajar arung jeram.

Ada modifikasi posisi duduk dari gaya ini, seperti pada gambar :

perhatikan posisi duduk anak2 ini

Setahu saya style ini banyak digunakan oleh atlet-atlet dari Jawa Barat salah satunya adalah Kapinis.

Salah satu kaki diselipkan di toward dan kaki satunya lagi dilipat didepan (posisi sila) dan diduduki. Stlye ini menurut saya rentan jatuh di arus yang besar (banyak standing wave dan hole) apabila si pendayung tidak memiliki posisi kuda-kuda yang kuat. Keunggulan teknik duduk ini adalah si pendayung dapat mendayung maksimal karena jangkauan dayungnya besar (lebih besar daripada Nantahala style yang pertama) terlebih lagi si pendayung memiliki power kuat dan ritme dayung yang cepat. Dan style ini membuat pendayung mudah bermanuver (melakukan dayung tarik, tolak, pancung, dsb).

c) Canoeing Style

Style ini berasal dari Jepang. Pada waktu itu atlet-atlet arung jeram Jepang berasal dari atlet canoe.  Teknik dayung ini adalah teknik duduk kedua yang saya tahu setelah mengikuti beberapa kejuaraan arung jeram.

Posisi mendayung ini dilakukan dengan cara duduk di toward dan posisi kaki direnggangkan untuk menjepit toward. Kaki depan diselipkan di toward depannya supaya tidak mudah jatuh ketika terkena hentakan jeram ataupun menabrak tebing. Posisi kaki belakang disesuaikan untuk kenyamanan si pendayung.

Tim Gerhana dalam Ciberang Open 2011
perhatikan posisi duduk pendayung kiri tengah :p

Keunggulan posisi ini adalah, si pendayung dapat mendayung maksimal karena memiliki jangkauan dayung yang lebar  sehingga sangat efektif untuk forward stroke. Keunggulan lain adalah, si pendayung tidak mudah jatuh dari perahu karena posisi badannya yang menghadap ke dalam perahu ketika mendayung. Sedangkan kelemahan posisi ini adalah sulit melakukan dayungan lain selain dayungan maju dan tarik (pancung) karena badan sulit memutar dan berpindah tempat. Posisi ini sangat cocok untuk pendayung tengah yang bertugas sebagai motor perahu.

Jika menggunakan style ini, maka untuk mengendalikan perahu awak mengurangi dan menambah power dayungan. Dan kendali perahu lebih banyak dilakukan oleh skipper.

4. Asmat style.

Berdasakan hasil pembicaraan yang saya lakukan dengan salah seorang maestro, Kang Wawan, arung jeram Indonesia, style ini diperkenalkan pertama kali oleh Arus Liar dan arus liar mendapat applause luar biasa ketika menggunakan style ini di kancah Internasional (saya lupa kejuaraannya apa).

Cara mendayung ini adalah dengan berdiri. Pendayung berdiri dengan menghadap ke bagian luar perahu. Perlu keseimbangan yang luar biasa untuk style yang satu ini karena ketika mendayung sambil berdiri sangatlah sulit.

Tidak banyak yang saya ketahui mengenai posisi ini karena saya pernah mempraktekkan beberapa kali tetapi saya tidak banyak mengetahui plus minus posisi ini.

ps. gambar menyusul secepatnya :p

Perjuangan Kartini

Sudah pukul 03.00 dini hari, dan belum ngantuk, lalu muncul keinginan belajar menulis

Selama ini saya hanya mengetahui Kartini adalah pejuang bagi kaum wanita yang memperjuangkan hak-hak wanita yang pada saat itu belum terpenuhi. Dan kemudian disebut emansipasi.

Dan saya membaca salah satu kolom harian dari Kota Pelajar tertanggal 19 April 2012 mengenai Kartini, saya menemukan kalimat ini :

Kartini duwe gagasan, bocah wadon kui ora beda karo bocah lanang babagan hak pendhidhikan. Apa meneh bocah wadon kui calon biyung, saengga kudu duwe kapinteran kanggo sangu mulang anak-anake

Dari situ saya (baru) mengetahui bahwa perjuangan yang diperjuangkan Kartini pada saat itu salah satunya adalah perjuangan kesetaraan hak pendidikan sehingga perempuan memperoleh hak pendidikan yang sama dengan laki-laki. Bukan perjuangan emansipasi dalam segala hal yang dianggap oleh kebayakan orang, termasuk saya. Pendidikan adalah penting buat seorang calon ibu serta pentingnya pendidikan untuk perempuan adalah supaya tidak mudah dibodohi.

Menurut saya bagaimanapun juga perempuan dan laki-laki tidak dapat disetarakan dalam segala aspek. Perjuangan Kartini pada masanya adalah perjuangan untuk membuat perempuan dapat membaca dan menulis yang artinya adalah perjuangan untuk memperoleh pendidikan.

Setinggi apapun pendidikan perempuan, sepintar apapun perempuan tanggung jawab utamanya adalah mendidik anak-anaknya. Kesetaraan bukan alasan perempuan untuk meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu dan kemudian mencari kekuasaan, ketenaran dan atau uang sebanyak-banyaknya. Karena yang terjadi kebanyakan saat ini adalah perempuan yang agak kebablasan menjalankan salah satu perannya dari multiperannya (sebagai istri, ibu dan mengembangkan dirinya sendiri). Emansipasi dijadikan alasan untuk tidak menjalankan tugas utamanya sebagai ibu dari anak-anaknya. Jika hal itu terjadi, itu bukan emansipasi tapi lebih kepada ambisi.

Bolehlah kita (perempuan) menjadi pribadi yang tangguh dan cerdas asal tetap bertanggung jawab terhadap tugas utamanya sebagai seorang perempuan. Karena perempuan memang spesial diciptakan oleh Tuhan dengan kodratnya yang akan menjadi istri bagi suami dan ibu bagi anak- anaknya.

Terima kasih Kartini..

Selamat Hari Kartini !!!

I have a passion

It is lie when I said that I have no passion.
I have a passion.
Yeah, I have it.
But I do not share it right now.
Someday, I will share it.

“keceh” di Waterbyur-Bantul

Tadi sore saya dan empat ekor teman berwisata ke salah satu taman bermain di Bantul, lokasinya terletak persis di seberang Pasar Seni Gabusan, yup, kami ke Waterbyurr. WATERBYURR namanya sedikit “wagu” kalo menurut saya.
:p

depan Waterbyur

Saya, Putri si tante, Marlin si tante magang, Banu yang ngakunya The Guardian of Aunties, serta Rama yang tidak mau berpisah dengan Banu berangkat jam 3 p.m. dari rumah saya. Cuaca hari itu sungguh panas. Entah, pergi ke kolam air di saat cuaca sedang panas merupakan suatu keputusan yang tepat atau bodoh karena dapat membuat kulit hitam (padahal Minggu mau kondangan di Solo).

Karena hari itu bukan weekend, dan sedang ada diskon 40%, kami cukup membayar 15.000 per kepala. Diskon hanya sampai 30 April 2012, jadi yang belum ke sana, segeralah. Haaaaaa..

Seperti waterboom kebanyakan, sebelum masuk kami diperiksa, dan bekal yang kami bawa berupa air minum, nasi 6 bungkus, serta sayur terpaksa disita petugas dan akan dikembalikan nanti ketika pulang. Alhasil kita bersenang-senang dalam keadaan lapar…. Arrrgggghhh….

Oke, sebelum mulai bermain, kami ganti pakaian. Dan berhubung tidak ada diantara kami yang bersedia “menunggui” barang bawaan, terpaksa kami para wanita harus menyewa 2 loker (5.000 per loker) sedangkan para lelaki?? Mungkin karena tidak ada barang berharga yang mereka miliki, mereka lebih memilih meletakkan tas nya di sekitar kolam.

Oh iya, di Waterbyur pelampung/ban tidak dipinjamkan secara gratis, tapi disewakan. 5.000 untuk yang single dan 10.000 untuk yang double.

Untungnya, saya, Putri dan Marlin memutuskan untuk ormed terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menyewa. Alhasil, kami menemukan 3 pelampung double tak bertuan tergeletak di sekitar kolam.
Hehehhe…

depan gua squidward

Wahana pertama (dan yang ada) yang kami coba adalah seluncuran (atau apalah namanya, saya tidak tahu) kami mencoba berlima bersama-sama. Seperti anak kecil kami duduk berjejer ke belakang dan saling memegang perut (atau bahu) pada awalnya. Dan setelah meluncur ….. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……. Kami berteriak layaknya waria ketemu satpol PP …. hahahhaaa.. kalimat terakhir adalah bohong…

Kami mencoba berulang kali wahana tersebut, dan berulang kali juga kami mencobanya bersama-sama.. sehingga berulang kali juga kami berteriak Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa….

Pada peluncuran terakhir, kami sepakat akan meluncur sambil bernyanyi Mars P*nta*ma. Dan,, It didn’t works. Hahhaaaa.. hanya 3 kata pertama yang kami nyanyikan bersama-sama, selanjutnya, hanya teriakan ala wanita…

Pie-red of Caribi-ahh
lihaattt,, ada bulan ...

Setelah puas bermain dan mandi, saatnya makan. Kami menikmati bekal yang kami bawa di pinggir kolam. Entah kenapa bapak petugas Waterbyur memberi ijin kami untuk makan di pinggir kolam di hari yang sudah gelap. Kami membawa enam bungkus nasi beserta sayur + lauk, dan tentu saja, keenam bungkus nasi tersebut tidaklah habis. Kami (saya lebih tepatnya) tidak serakus itu.

makaaaaannnn...

Hal yang paling menyebalkan hari itu adalah, Tante Jupe rewel. Saya harus ganti ban dalam depan (37.000 rupiah). Maksude ngirit malah nombok. Waterbyur yang mahal. Ishhhh…

ps. Waterbyur adalah semacam waterboom, dan bagi pecinta wahana seperti ini (waterboomholic, sebaiknya mencari tempat lain, karena waterbyur ini lebih cocok untuk anak2) :p

related photos :
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.3374209347153.2135554.1026870338&type=3

sebelah sandal baru

terima kasih yaaaa,, atas perhatiannya…. 🙂
iya,, kamu… :p

————————————————————-

tak sampai hati untuk membukanya
bak cinderella yang kehilangan salah satu sandalnya, sayapun demikian, lho???
cara pakai ??

 

tak habis pikir…

goes to DIENG PLATEAU-Wonosobo it should be more fun

At the end of January (28 January 2012) I walked to Wonosobo with purpose to Dieng. This trip was not one of my favorite trip. It should be an exciting trip (because basically I really like to travel), but not for this time.

Like the words of someone, something to be interesting not because of where we are, but with whom we are there :D.
I’m not going to tell you about it, I’ll just tell you about some interesting places in Dieng.. :p

————————————————————————————————————–

Trip in Jogja Dieng taken for approximately two hours by car. The trip from Yogyakarta  approximately at 5 pm, then on the way we were stopping briefly for dinner. Up in Wonosobo at 8pm. Arriving in Wonosobo I stayed at the home of a friend because the trip to Dieng will be done tomorrow morning. Greeting from the host was very warm 🙂 . Thank you..

one of Dieng’s scenery

Dieng’s name is derived from the Sanskrit “di” meaning place, and “hyang” which means creator deity. Overall the Dieng plateau can be interpreted as the abode of the gods. Maybe that’s one reason why Dieng has beautiful scenery. Because in my mind, the abode of the gods is a beautiful place. That’s the Dieng plateau, a place with beautiful scenery and a relaxing atmosphere.

Dieng is an active volcanic area and it can be said to be a giant volcano crater with multiple kepundan. The average elevation is approximately 2,000 m above sea level. The temperature of the air in the Dieng plateau including cold and tend to be cool. I thought, it was because the effects of global warming or the effect of mood, when I was on the Dieng plateau at that moment I felt the air temperature was cold but not too cold, so I didn’t need to use a thick jacket or multiple layers. While at Dieng I always encountered fog. It added effect of cold mist and mystery.

The Complex of Warna Lake (Telaga Warna)

at Warna Lake

Warna Lake  has unique characteristics related to the color (color is called warna by Indonesian) of the lake. People said that the color of this lake (sometimes yellow or green and and colorful like a rainbow of colors) due to  the sulfur contained therein. This lake has very beautiful scenery. At the time I got there, the water of this lake was green.

Beside Warna Lake, there is Pengilon Lake, the water is clear like a mirror (mirror = pengilon) that is what makes the locals name Pengilon Lake. I just saw the Pengilon Lake from a distance of 5 meters because I’m a little confused looking for access to the Lake. I had no time to reflect on the lake. The water in the lake is blue.

The myth of the inhabitants of the Lake could mention when to know the contents of human heart. If she/he was looked pretty or handsome when looking at the water pools, then her/his has good heart. Instead, it includes the evil-minded people.

In the complex  of  this lake there are still some lake that I forgot its name. Besides the lake, there are three caves, belik stone (batu belik) and slate in this tourist complex. There Semar Cave, Sumur Cave and Jaran Cave. Visitors can instantly know the name of the cave because there is a statue of Semar in front of him. Semar is one that is considered the wisest in punakawan series. The cave was named Semar Cave because the locals believe if the cave is guarded by Eyang Semar.

in front of Semar Cave

In front of the Sumur Cave there is a statue of woman with deep well bringing pitcher. This cave does have a small pool of water is said to bring good luck. Many believe the water in these Sumur Cave can cure various diseases and make the skin prettier than before.

Jaran Cave or cave of the horse described previously housed the hermitage of Rishi Kendaliseto. A time when the heavy rain, there’s a horse that resting in it. Oddly enough, when the horse is out of the hole that the next day, the horse had been pregnant. Some people believe when these caves can be used to meditate the women that it’s hard to get descendants. Make the girls should be cautious when visiting the cave, it was feared that later after entering the cave will become pregnant.

In Slate there is a myth that says that  whoever wanted their children can fluently read and write, can go to this site to pray. I think, not only pray but also need to learn .. 🙂

Complex entrance fee is only 5000 rupiah per person.

Sikidang Crater (Kawah Sikidang)

Okay, go to the next place, Sikidang Crater

A few meters before getting to the crater, we can already smell the pungent sulphur. It is strongly advised to wear masks when going to visit this place. Not wearing a mask was not a problem because a few hours in this place and smell the pungent sulphur will not makes you die.

Sikidang Crater

The name of Sikidang Crater is taken from the kidang (in Indonesia = Deer). This animal always jump, as well as water vapor and molten lava gray in Sikidang Crater which is always turbulent and the emergence of sedentary even jumping like a deer/antelope.

The Complex of Arjuna Temple 

Arjuna Temple  is the oldest hindu Temple in Java still stands upright in the middle of the whaling time and weather, being a proof of the wealth of cultural heritage. Entering this complex, we’ll be treated to some of  beautiful old temple. Although some parts of the temple are begins eaten by age, but temple to cult Lord Shiva which was built in 809 AD still standing strongly and  give the feel of peace in the midst of the natural silence of the mountains.

Complex of Arjuna Temples

Maybe because the place was interesting and a fun atmosphere, so that when I entered the complex of the temple I encountered many young couples who are spending time together, and most of them are high school kids.

The entrance fee of Sikidang Crater and Arjuna Temples are 10.000 rupiah per person.

Ongklok Noodle (Mie Ongklok)

Not complete it if you visit a place but do not try the typical dish of that place.
I also tried Ongklok noodle  (Mie Ongklok), one of the special food from Wonosobo. Ongklok noodle is noodles are served with raw cabbage and garlic chives. Cooking process put in a kind of bamboo sieve and repeatedly dipped into boiling water (ongklok-ongklok).

Sauce that is used there are 2 kinds. The first sauce is thick brown sauce made from a mixture of extract of cassava, sugar, dried shrimp, and other secret recipe. After the noodles doused again with peanut sauce dressing. Ongklok noodle usually serves with beef satay (sate).

And the taste of these noodles was …….
Iyuuuuhhhh ….
In my opinion it wasn’t tasty … yiiaaakkkss …  probably because my taste is different so I don’t like the noodles, which was said to have many fans.

related photos :
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.2865495709630.2125815.1026870338&type=3

Catatan Tim FAJY Putri yang (Akhirnya) Juara 1 Kelas Putri dalam Kejuaraan Arung Jeram Tingkat Nasional (R6) Ciberang Open 2011

Sebuah cerita yang di-post ke web PLANTAGAMA tahun 2011 lalu, dan akhirnya tulisan ini hilang karena web tersebut underconstuction 🙁
———————————————————————————————————————

the dashing gals

”End of our practice. With a significant changing, with a beautiful and fair game, we rise to the lectern and laugh together. I don’t think that we can do all of this better than before. That’s the point!! We breath together on bolt of our paddle, we walk on the same way, we think the same thing, although sometimes we’ve made some gales among us. This victory is really meaningful for me. And, with this story, I hope you know that I’m really, really love and proud of you. THANK YOU, GIRLS.. Best regards “, EIRIEL..

Dui Harjono, ini kali pertama namanya kami sebutkan di awal kalimat. Mengapa? Meski pun bukan karena alasan yang oke, tapi paling tidak, kami CUKUP menghargai keinginannya untuk menemani kami di kejuaraan arung jeram. Kamu! Yang paling sering bilang kami B-O-D-O-H, masih mau meluangkan waktu untuk memasak untuk kami. WOW! Kami bisa boker tiap hari dengan lancar berkat masakanmu. Ow iya, terima kasih juga atas informasimu yang salah. Berkat info itu, kita (lebih tepatnya, Lukvi, Greya, Lelly, dan Uul) harus lari terburu-buru menuju start. Justin dan Ariel? Ow, sudah terselematkan dengan mobil Brimob (itu juga karena kamu, Jon). Satu lagi! Di saat kami masih mampu untuk mendayung, menuju gate upstream, kamu dengan pedenya berteriak “LEWATI WAE!!!”. Jon, plis deh.. Manajer opo kui??? Sudah cukup sepertinya, hanya itu kontribusi yang bisa kamu berikan untuk kami.. Terima kasih, Jono.

Dhangku Putra, seorang lelaki yang paham akan wanita. Itu saja..

Lelly AFIDT (dengan dua nyawanya), Nurul Fitriani (tanpa kaca mata merahnya), Lukvi Raharasi (dengan tenaga yang masih sama besarnya), Greyanasari Rachmadi (dengan dayung yang sering kompulsif), Titin Marlina a.k.a BISPAK (dengan bokong yang terus bergeser-geser diats perahu), Justin Larissa (yang udah berkurang autism-nya), dan Martina Ariel (yang tetap semangast.. hah?! Sedikit wagu untuk komentar ini). Terima kasih, berkat kita, arum jerang Yogya bisa punya banyak fans di Jawa Barat. Ngak-ngaaak-ngaakkkk..

Mas Rosyid, tanpa perahu, transportasi, basecamp, makanan, dan kemurahan hatinya, kami pasti tidak bisa latihan untuk Ciberang Open 2011.

Pak Yudi Hermanu, Mas Cahyo Alkantana, A. Dwi Sukmatriana, Anwar Susanto, Andri Samad Rambe, dan Mbak Nurberta Suyati, terima kasih! Tau lah ya kenapa kita berterima kasih?!

Kang Wawan, dan Bolang. Terima kasih untuk tumpangan, makanan, tawa, dan latihan yang diberikan untuk kami selama di Ciberang..

“MAIN CANTIK YA…”
Sebuah motto sederhana yang kami bawa menuju Sungai Ciberang. Maret, tepatnya tanggal 25-27 lalu, kami, tim putri FAJY yang turut berpartisipasi dalam Kejuaraan Arung Jeram Tingkat Nasional (R6) Ciberang Open 2011. Alasan utama mengapa tim kami ikut adalah untuk mengurangi kekecewaan karena diundurnya Kejuaraan Nasional di Manado, Sulawesi Utara 2011. Yah, meski pun kami tahu bahwa Ciberang bukanlah sungai yang asyik untuk bagi kami.

Mengapa? Ini alasannya……

Sungai Ciberang adalah sebuah sungai yang berada di Kecamatan Lebak Gedong, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten dan berhulu di Taman Nasional Gunung Halimun yang sampai saat ini cukup terjaga kelestariannya, sehingga bisa digunakan untuk arung jeram sepanjang tahun, baik kemarau maupun musim hujan. Sungai Ciberang memiliki penampang yang tidak terlalu lebar dan berBATU SANGAAAAAAT banyak (ini mengapa Ciberang kurang asyik bagi kami), sehingga dibutuhkan manuver dan respon yang cepat.

Kejuaraan ini diikuti oleh 15 peserta (termasuk 3 tim putri) yang terdiri dari Tim Umum, Organisasi Pecinta Alam serta Brimob. Dalam klasifikasi umum (jika digabungkan peringkatnya berdasarkan catatan waktu), Tim FAJY Putri mampu mengalahkan beberapa tim putra (termasuk Brimob) dan mengalahkan semua tim putri serta berada di peringkat 7 (lumayanlah). Tim Putri yang mengikuti kejuaraan ini selain kami adalah Tim Putri Ganesha ITB, dan Tim Putri FAJI Kota Tangerang.

Untuk kelas Putra, juara I diraih oleh Tim Lodaya Kapinis Jabar ( alias Bolang, yang notebene adalah anak-anak berumur 15-17th), dan disusul oleh pesaing ketatnya, tim tuan rumah, Banten Rafting Ciberang (alias Borang, yang juga masih bocah) yang meraih peringkat II, Sedangkan peringkat III diraih oleh Gagak Lumayung FKPPI.

Kata Kang Wawan, dalam setiap pertandingan arung jeram ada tiga faktor yang memengaruhi kinerja tim, yaitu OON = Otak, Otot, Nasib. Menurut kami, pada kejuaraan kali ini faktor otak lah yang paling berpengaruh. Karakteristik sungai yang berbatu, mengharuskan kami untuk memiliki respon yang cepat dan melakukan berbagai maneuver serta berpikir bagaimana menyiasati karakteristik sungai tersebut..

Tips penting yang patut dicoba di sungai berbatu SANGAAATT banyak : kempeskan badan perahu (dinding, toward dan floor). Dengan begitu, laju perahu tidak tertahan terlalu lama pada batu. Dan usahakan, latihan yang cukup untuk bisa bermanuver ria. Sebenarnya, tim lain tidak menggunakan tips ini sih. Tapi alhasil, kita tersugesti bahwa perahu tidak akan nge-wrap ketika badan perahu kempes. Alhasil lagi, kita menang!!! Hahahahaaa.. Itu hipotesis yang sudah kita uji. Jadi, percayalah!!

Nasib!! Hanya Tuhan yang tahu. Kami juga tidak tahu, hari di mana kami lomba, debit air stabil (TMA 40), padahal, tim putra yang turun setelah kami, mendapat debit dengan TMA 50-70. Thanx, God!

Otot!! No Comment.. Meski pun kami sudah latihan nge-gym 1 bulan lamanya, tampaknya otot lelaki-lelaki itu jauh lebih matang.

Sekali lagi, inilah kami, Tim FAJY Putri :
Martina Ariel (Setrajana)
Justin Larissa (Palapsi)
Lukvi Raharasi (Plantagama)
Greyanasari R. (Majestic-55)
Nurul Fitirani (Satu Bumi)
Lelly AFIDT (Madawirna)
Titin Marlina (Mapeal)
Manajer tercintah: Dui Harjono (Palafne), Asisten Manajer : Dhangku Putra (Majestic -55)
Pelatih : Sungai Elo, Mas Rosyid (Mendut Rafting), Kotek (Mendut Rafting), sedikit polesan Kang Wawan (KAPINIS)

related photos :
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.1055339776863.2010791.1026870338&type=3

Women’s quarter of a century …

Women’s quarter of a century …

Today is the day where I officially became the women’s quarter of a century …
hahahahaaaa….
The greatest achievement?
I have no idea yet ….

These are what I did in half a day
  • Sleep late exactly on this day, at 2 am..
  • Wake up late (I didn’t need these plans how hard I woke up with the shows when I woke up right)
  • Half day of hunger and no attempts to glut the belly … aiiihhhh ….
  • internet all day, make a blog and weird writings (including writing this)

Until there’s a message  from someone invited to eat, and because I was too lazy to get out the house (with various excuse are created by me), until in the end he is willing to pick up and even treat me (really horribly, didn’t do anything and didn’t have the money)….
how nice  is he,,  isn’t he??!!!  Mmmuuuaaacchh …

now at 1 pm … its time to take a bath …
to be continued ….

a little story when I visited Kampung Naga

Prologue : an old story that I wrote , I visited Kampung Naga on March 29, 2010 in order to determine my mini thesis. And finally the Kampung Naga was not an option to my mini thesis. 🙁

and the story goes……………

Kampong Naga is not a kampong inhabited by dragons, because in English, Naga does dragon.

Kampung Naga is a kampong which contains indigenous peoples, namely the Naga tribe. 🙂

Kampung Naga is located between the city of Garut and Tasikmalaya, West Java. This village administratively located in the village of Neglasari, sub distric Salawu, Tasikmalaya, West Java province. Distance from Garut 26 kilometres and if from Tasikmalaya 30 kilometres.

Kampung Naga is located on the edge of the highway that traversed a large buses and trucks. From the highway towards Kampung Naga, I had to down the stairs which was made of stone and cement (in Sundanese is called Sengked). The ladder as far as 500 meters with a slope of 45 degrees. To down the stairs I only took 5-10 minutes. Not too much like I imagined before. On the way down the stairs I met the River Wulan (River in Sundanese is called Ci, so we calling it Ci Wulan) and paddy fields belonging to the tribal Naga.

Residents of Kampung Naga belongs to comply with customs and civilization is inherited from ancestors. Residents of Kampung Naga does not allow such goods or modern equipment into Kampung Naga. In Kampung Naga, no electricity, TV, fridge, rice cooker, or other modern items. According to the beliefs of the community Kampung Naga, by running the ancestral heritage of customs means honoring the ancestors or Karuhun. Everything comes not from Kampung Naga, teachings and karuhun something not done karuhun is considered something of a taboo. If things are done by the community Kampung Naga means in violation of customs, disrespectful karuhun, this is sure going to cause havoc. So if entering the area of Kampung Naga will not hear the sound of a radio, but will definitely hear sounds of insects and frogs when the Sun will set.

All forms of building in the Kampung Naga are alike. Be it mosques, houses, barns, or meeting halls. Building forms the platform and its roof made of Palm, metroxylon sagu, leaves or straw. Walls were made of woven bamboo (bilik).The door was made of rattan. All of the buildings in Kampung Naga facing the same direction. I.e. North or South. Very uniform instead.

For the fruit of the hand do not have to worry, because along the way to Kampung Naga many shops (even within Kampung Naga there is a kiosk that provides souvenirs) that provide various souvenirs handicrafts by Kampung Naga’s peoples which are generally little bit cheap (?) and with a variety of options.

In Kampung Naga, we could only stay a maximum of 3 days, no more. If you want longer can stay at a hotel or Inn outside the Kampung Naga. The price is also relatively cheap, namely 400,000 thousands rupiah for 1 month (at that time) :p

related photos :
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.1368565127301.2047071.1026870338&type=3